Friday, 16 November 2018

Pimpinan Majelis Agama Banten Kecam Teror Bom di Jatim

Senin, 14 Mei 2018 — 13:46 WIB
Pimpinan Majelis Agama Banten

SERANG – Pimpinan majelis-majelis agama di Banten mengecam aksi teror yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Para pimpinan majelis agama di Banten bersatu menyatakan sikap atas peristiwa aksi teror di Jawa Timur. Selain menyampaikan keprihatinan, para pemimpin majelis agama inipun menyampaikan duka cita.

“Kami mengecam keras tindakan kejahatan terorisme yang sangat keji dan biadab di luar batas kemanusiaan yang dilakukan pelaku bom bunuh diri karena tindakan tersebut bukan ajaran agama bahkan bertentangan dengan ajaran agama manapun,” tegas Ketua Majelis Ulama (MUI) Banten, AM Romly saat menyampaikan pernyataan sikap bersama di Kantor MUI Banten, Senin (14/5/2018).

Hadir dalam pernyataan sikap ini AM Romly (Ketua MUI Banten), Pdt Benny Halim dari Musyawarah Pimpinan Gereja (Muspija) Banten, Romo St Sumardiyo Adipranoto Pr dari Forum Pimpinan Gereja Katolik (Forpijak), Ni Ketut Caturwati dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banten, PMy Yahya Santosa dari Forum Umat Budha (FUB) Banten, dan Ws Rudi Gunawijaya dari Majelis Tinggi Agama Konghuchu Indonesia (Matakin) Banten.

Para pimpinan majelis agama di Banten juga mendukung upaya aparat keamanan dalam mengungkap dan menindak tegas kelompok teroris beserta jaringannya.

“Menyerukan kepada Polri untuk memberi perlindungan secara maksimal kepada para pemuka agama, umat beragama, serta rumah ibadahnya,” ujarnya.

Lebih lanjut para pemimpin majelis agama juga menyerukan kepada masyarakat Provinsi Banten untuk tetap tenang namun waspada seraya terus meningkatkan silaturahmi, mempererat persaudaraan, memperteguh persatuan, menjaga perdamaian, dan memelihara kerukunan.

“Menyerukan kepada masyarakat agar meningkatkan kehati-hatian dan menjauhi upaya politisasi atas kejadian tersebut karena akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pihak korban teror,” ungkapnya.

Pdt Benny Halim menambahkan bahwa pernyataan sikap para pemimpin majelis agama ini sebuah  pengharapan cinta kasih persatuan dan masa depan di Banten.

“Kami meyakini umat beragama di Banten adalah satu dalam membangun kemanusian dan peradaban. Yang merusak dan membinasakan adalah yang berkhianat pada ajaran Tuhan,” ujarnya.

Pdt Sumardiyo menyatakan bahwa umat beragama di Banten sudah menunjukkan solidaritas kebersamaan. “Kejadian di Surabaya semakin menguatkan kebersamaan di Banten untuk mewujudkan kedamaian,” ungkapnya. (haryono/win)