Saturday, 15 December 2018

Bini Kadung Sudah Jenuh Suami Disuruh Selingkuh

Selasa, 15 Mei 2018 — 7:02 WIB
jandamud

USIA belum juga kepala 5, tapi Rika, 38, sudah jenuh dalam urusan peranjangan. Ketimbang suami kesepian tak bisa “ngetap olie”, Hendro, 33, dipersilakan cari WIL atau selingkuhan saja. Anehnya, begitu gaji bulanan tak lagi diterima utuh dari suami, Ny. Rika mencak-mencak. Bagaimana Hendro tidak bingung.

Ketika usia belum kepala 4, biasanya kaum wanita sedang hot-hotnya dalam urusan berbagi cinta dengan suami. Ada yang dalam seminggu minta pelayanan 2 kali sesendok makan. Ada juga yang sebulan sekali sudahlah cukup, karena baginya suami selalu ada di dekatnya itu sudah sangat membahagiakan. Sebab suami istri itu jika sudah lama dalam bingkai rumahtangga, sudah seperti kakak adik saja.

Rupanya Ny. Rika dari Banyuurip Surabaya, seperti itu. Baru menikah 5 tahun dengan Hendro, dua terjebak pada kejenuhan asmara cinta. Maklum dia menikah dalam usia tidak lagi muda, jika tak mau disebut perawan tua. Celakanya, Hendro yang juga diseburt perjaka tua, dia tak romantis sebagai suami. Ibarat baca buka, tak mau mulai dari kata pengantar penerbit pada cetakan ke berapa, tapi langsung saja bab tiga.

Menerima servis suami yang monoton, dan anak juga tak kunjung hadir, hal ini membuat Rika jadi jenuh dalam urusan ranjang. Karena suami terus minta dan dia tak sanggup melayani, lalu keluarlah saran gilanya. “Mas Hendro cari WIL saja ya, yang penting saya tak melihatnya,” kata Rika serius.

Awalnya Hendro memang menganggap istrinya kentir dadakan. Tapi ternyata itu memang serius. Dasar dia sudah lama ngempet, saran istrinya itu langsung disambut dengan gembira. Mulailah Hendro mendekati Wiwik, 27, teman sekantornya. Hanya diberi pulsa sebulan Rp 100.000,- janda muda itu mau saja diajak jalan ke mana-mana, yang kemudian dilanjutkan bubuk-bubuk di hotel.

Sejak itu Hendro tak lagi “mengganggu” istrinya. Sama-sama nyamanlah. Yang Rika lupa dan di luar hitungan, punya WIL itu ternyata termasuk proyek padat modal pula. Makan di restoran, tidur di hotel, semua membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Resikonya, Hendro harus mengurangi amplop gaji untuk yang di rumah.

Ketika pengurangan anggaran itu baru sekitar Rp 500.000,- sampai Rp 750.000,- Rika tak pernah mempertanyakan. Tapi setelah pengeluaran tak terduga itu hampir mencapai angka 50 % dari gaji, mulailah Rika menggunakan hak bertanya pada suami. Tanpa tedeng aling-aling Hendro ngaku saja atas Pansus bininya. “Lho katanya harus punya WIL, resikonya yang begini. Gimana sih?” kata Hendro malah salahkan istri.

Rika sungguh tidak terima. Masak dana “Tim Selingkuh” harus mengganggu APBN, kan bisa pakai dana CSR, wong jumlahnya juga hanya satu bukan 75 orang. Pokoknya Rika menuntut, dana proyek WIL yang sudah kadung keluar harus dikembalikan ke kas negara. Untuk selanjutnya, proyek WIL itu harus menggunakan pos-pos anggaran lain non APBN.

Tentu saja Hendro bingung, begini salah begitu salah. Ketimbang pusing, opsi bercerai pun mulai diwacanakan, apa lagi Wiwik-nya juga sudah mendesak untuk segera dinikahi. “Kalau begitu kita bercerai saja. Okey….?” Kata Hendro sementara Rika tak memberi jawaban pasti.

Lihat jempol kakinya, jika bergerak-gerak, itu tanda setuju. (JPNN/Gunarso TS)