Thursday, 16 August 2018

Kapan Mau Hidup Tentram?

Selasa, 15 Mei 2018 — 6:36 WIB
jelag

“ MASYARAKAT kiranya menginginkan hidup tentram. Nggak kepingin adanya keributan, kegaduhan. Siapa sih yang bikin ribut?” ujar sahabat Bang Jalil yang menelepon entah dari mana.

“Kita ini kepingin hidup sejahtera, adem ayem. Syukur kalau kebutuhan pokok banyak tersedia dan murah, ya PaK?” ujar istri Bang Jalil yang selalu tahu isi hati suaminya.
Itu adalah pikiran ibu-ibu. Apalagi sudah dekat puasa. Kepinginnya semuanya aman. Agar tenang dalam beribadah? Eh, ini malah ada yang mengganggu.

“ Kalau mau bunuh diri mah, jangan ngajak-ngajak orang lain ngapa? Kasihan kan yang nggak berdosa jadi korban?” kata istri Bang Jalil lagi.

Bang Jalil diam saja. Tapi hatinya bicara sendiri. Jangankan para ibu, dirinya saja sangat was-was. Sebagai orang awam, dia nggak berpikir apakah ini politik atau apa. Yang jelas, peristiwa semacam ini sangat mengganggu kenyaman hidup. Siapa pun korbannya, mereka adalah manusia, yang punya hak untuk hidup aman.

Bang Jalil nggak bisa berpikir seperti orang-orang yang ada di atas sana. Baginya, ya tadi sejalan dengan pikiran sang istri, kalau negeri ini nggak aman, ya semuanya jadi ikutan kena imbasnya.

Misalnya, Bang Jalil sejak pagi kepalanya jadi pusing tujuh keliling, badannya terasa sakit semua, pegal linu. Makan nggak enak, ngopi juga terasa pahit.

“Kalau kopi memang nggak ibu kasih gula,Pak. Kan dokter bilang, Bapak harus ngurangi gula,” ujar sang istri, terus terang.

Bang Jalil diam. Dia sadar kalau penyakit di tubuhnya pantang gula.

“ Kebetulan Pak, harga sembako lagi pada naik?” kata sang istri.

Bang Jalil nggak ber-reaksi, dia sendiri masih ngeri membaca dan menonton berita bom bunuh diri. Jadi soal harga sembako naik apa turun, nggak kepikiran. –massoes