Tuesday, 14 August 2018

Revisi UU MD3 Cepet Betul Giliran UU Teroris Lelet Pol

Selasa, 15 Mei 2018 — 6:50 WIB
revisiuu

MEI 2018 adalah bulan kelabu bagi bangsa Indonesia. Sekelompok teroris unjuk gigi, dari Mako Brimob Depok, tiga gereja di Surabaya, Rusunawa Sidoarjo dan Polrestabes Surabaya.

Sedikitnya 31 tewas, termasuk polisi. Polri tak bisa bekerja maksimal, gara-gara revisi UU teroris lelet di DPR. Tapi giliran UU MD3 set, set, cepat disahkan.

DPR itu katanya wakil rakyat, tapi faktanya banyak yang lebih mementingkan kelompok dan dirinya sendiri. Ambil contoh soal revisi UU MD3. Karena menyangkut kepentingan mereka sendiri, dengan cepat bisa disahkan. Sejumlah politisi pun naik pangkat menjadi Wakil Ketua DPR dan MPR.

Tapi giliran revisi UU Terorisme, sudah 2 tahun lebih digodok di DPR hingga kini belum juga disahkan. Pemerintah sudah mendesaknya, tapi Pansus UU Terorisme itu hanya nggah-nggih ra kepanggih (mengiyakan saja tanpa bukti). Syafii dari Gerindra selaku Ketua Pansus beralasan, DPR tak mau UU itu nanti dijadikan senjata untuk nangkap orang sembarangan.

Sebelum UU Terorisme No. 15 tahun 2013 itu direvisi, pasal-pasalnya banyak yang melumpuhkan kerja polisi. Antara lain disebutkan, polisi baru boleh bertindak nangkap orang maka kala sudah ada aksi atau gerakan teroris itu sendiri. Padahal maunya polisi, meski belum ada bukti, asal ada gejala gerakan mengarah ke terorisme, langsung bisa bertindak.

Begitu lemahnya UU Terorisme, kelompok teroris makin gede kepala, sementara polisi tak bisa bekerja maksimal. DPR kini boleh lihat, teroris bisa menguasai Mako Brimob selama 36 jam dengan polisi gugur sebanyak 6 orang. Di 3 gereja di Surabaya kemarin, Rusunawa Sidorjo dan di Mapolresta Surabaya tewaskan sebanyak 25 orang termasuk 13 pelakunya.

Padahal jika revisi UU Terorisme tersebut cepat diselesaikan di DPR, kiranya takkan terjadi keganasan teroris separah ini. Karenanya Kapolri Tito Karnavian mendesak Presiden Jokowi agar menerbitkan Perppu, karena Polri tak mau tersandera DPR dan keamanan negara lebih terjaga.

Ternyata Ketua Pansus Romo Syafei malah kebakaran jenggot. Dia menuduh Polri yang tak becus kerja, sehingga minta Tito Karnavian mundur saja jika tak mampu menumpas teroris lewat UU yang belum selesai direvisi. Padahal jika revisi UU tersebut benar-benar menjadikan pemerintah sembarangan tangkap orang, masih bisa dikoreksi. Tapi ketika sejumlah anak bangsa mati sia-sia gara-gara UU yang mandul, bagaimana mengoreksinya? – gunarso ts