Wednesday, 17 October 2018

Tekan Gejolak Harga Pangan

Selasa, 15 Mei 2018 — 5:13 WIB

MENJELANG bulan Ramadhan, harga kebutuhan pangan sudah melonjak naik. Di pasar-pasar tradisional di Jakarta, serta di kota pinggiran seperti di Depok dan Tangerang, terpantau kenaikan harga terjadi pada beberapa komoditas pangan. Harga beberapa jenis beras masih belum seragam di tiap-tiap pasar.

Kenaikan harga terjadi pada beras, telur, daging sapi dan ayam, minyak goreng curah. Kelompok sayuran, seperti cabe, bawang dan kawan-kawannya, juga tak maau ketinggalan ikut naik. Gejolak harga kebutuhan pangan terjadi sudah dua pekan ini, dan sampai kini belum terkendali. Padahal Pemprov DKI mengklaim stok kebutuhan pangan aman.

Fluktuasi harga kebutuhan pokok selalu terjadi menjelang Ramadhan, dan seperti sudah terjadwal terus naik menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kenaikan harga akan terus terjadi bila pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tidak segera bertindak cepat.

Naik turunnya harga kebutuhan pokok, tak terlepas dari peran spekulan dan mafia yang kerap memegang kendali pada rantai pemasaran. Mereka selalu memanfaatkan momen hari besar, seperti bulan puasa, Lebaran, Natal maupun Tahun Baru untuk meraup untuk setinggi mungkin. Kondisi ini semestinya sudah diperediksi pemerintah sejak jauh hari dan melakukan langkah antisipasi.

Menekan gejolak harga pangan, pemerintah dituntut melakukan langkah-langkah strategis. Terjunkan tim khusus Satgas Pangan lintas instansi dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Bulog, Polri dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Tim ini harus terus memantau dan mengendalikan harga, serta menindak pihak-pihak yang berbuat curang. Jangan biarkan kartel-kartel pangan, mafia dan spekulan menjadi pengendali rantai pangan. Aparat hukum yang tergabung daalam tim ini harus tegas menindak spekulan.

Langkah lainnya, gandeng pengusaha retail melakukan operasi pasar, benahi distribusi dan tata niaga bahan pangan. Dalam situasi ekonomi yang serba sulit ini, kenaikan tingginya harga pangan kian membuat rakyat menderita. **