Thursday, 19 July 2018

Film ‘212 : The Power of Love’ Ditolak di Manado

Rabu, 16 Mei 2018 — 8:27 WIB
Fauzi Baadila dalam adegan di film '212 : The Power of Love'. (ist)

Fauzi Baadila dalam adegan di film '212 : The Power of Love'. (ist)

JAKARTA – Penayangan film religi ‘212: The Power of Love’ mendapat penolakan di beberapa kota di Indonesia, termasuk kota Manado, Sulawesi Utara.  Menanggapi hal tersebut, Eksekutif Produser, Erick Yusuf, prihatin atas kejadian yang dialami para penonton filmnya.

“Ini tindakan yang tidak menunjukkan sikap persatuan, tidak toleran,” ujar Erick Yusuf dalam sesi nonton bareng bersama 100 ulama film ‘212: The Power of Love’ di CGV Grand Indonesia, Jakarta, semalam.

Sementara itu, dari pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Achmad Cholil Ridwan menegaskan, sejatinya hal itu tak perlu dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tidak menyukai film garapan sutradara Jastis Arimba itu yang dibintangi Fauzi Baadila.

“Kami menyerukan, ayo kita tonton film ini. Saya sudah menontonnya, dan isinya sangat luar biasa, pesannya tidak hanya kepada umat Islam, tapi sangat universal,” ujar Achmad Kholil.

“Pesan perdamaian dan cinta di film tersebut sangat luar biasa, betul-betul mencerminkan Indonesia sekali, karakter dan kearifannya juga sangat Indonesia dan penuh semangat kebersamaan. Makanya kami tidah habis pikir kalo ada pihak yang tidak suka pada film ini. Kalo pun tidak suka, itu hak mereka. Tapi tidak lantas melakukan pelarangan atas hak orang lain untuk menonton film ini,” lanjutnya.

Sedang Oki Setiana Dewi,yang memproduseri film tersebut ikut menegaskan, bahwa film yang diproduksinya itu bermuatan edukasi bagaimana seharusnya sikap seorang muslim dan perjuangan umat Islam dalam membela agama.

“Jadi sangat saya sesalkan jika ada pihak-pihak yang melarang orang menonton film ini,” tegasnya.(ali/mb)