Sunday, 22 July 2018

Terduga Teroris Tewas di Manukan Adik Kandung Pelaku di Sidoarjo

Rabu, 16 Mei 2018 — 0:27 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

SURABAYA– Polisi masih terus mengembangkan kasus terduga teroris tewas dalam baku tembak dengan tim Densus 88 di kawasan Manukan Kulon, Surabaya, Jawa Timur, Selasa petang tadi.

Data sementara yang diperoleh petugas ternyata Dedi Sulistiantono adalah adik kandung dari yang juga tewas saat baku tembak di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo.

Hal itu juga dibenarkan oleh walikota Surabaya, Tri Rismaharini saat meninjau rumah terduga teroris yang tewas ditembak itu.

Yang dimaksud adalah Anton Febrianto (47) yang tewas dengan keadaan memegang sakelar bom yang meledak secara tak sengaja, Minggu (13/5) malam.

Tri Rismaharini mengatakan ia sempat melihat pemeriksaan awal yang dilakukan seorang polisi perempuan terhadap isteri terduga teroris yang tewas.

“Dia mempelajari semua itu dari internet,” kata Tri, namun kemudian meminta wartawan untuk bertanya lebih jauh soal hal ini kepada polisi.

Sebelumnya, jubir Polda Jatim, Kombes Frans Barung Mangera, membenarkan tewasnya terduga teroris itu.

“Petugas melakukan tindakan tegas, dengan melakukan pelumpuhan. Itu karena dia melawan, dan lokasinya di wilayah pemukiman, yang bisa membahayakan warga setempat,” katanya kepada wartawan di Media Center Polda Jatim.
Frans Barung mengatakan bahwa terduga teroris itu tewas di dalam rumahnya di sebuah gang, dalam baku tembak sekitar pukul 17:15, Selasa (15/5).

Namun empat anggota keluarganya, selamat. “Isterinya dan tiga orang anaknya, sudah diamankan semua,” kata kata Frans Barung pula.

Sejumlah sumber menyebut, tiga anak itu tidak bersama kedua orang itu ketika terjadi baku tembak, karena sudah dititipkan sebelumnya kepada tetangga mereka tak jauh dari rumah itu.

Disebutkan, beberapa jam sebelumnya ketiga anak itu pergi mengaji, namun pulang ke rumah tetangga yang dititipi. Untung, penggrebekan terjadi sebelum ketiga anak itu diantar pulang.

Masih belum jelas, bagaimana keadaan ibu mereka.

Namun Densus bersiap meledakkan benda-benda di rumah itu yang diduga sebagai bahan peledak. Warga yang sejak Magrib brgerombol, diminta untuk menjauh.
Identifikasi jenazah

Dalam jumpa pers beberapa jam sebelumnya, Frans barung Mangera mengatakan bahwa kendati sebagian besar nama terduga pelaku serangan bom Surabaya dan Sidoarjo yang tewas sudah diumumkan, namun belum ada keluarga yang datang untuk mengidentifikasi jenazah dan mengurus pemakaman.

“Hingga jam 14:00 Selasa (15/5) ini, belum satu pun keluarga dari pelaku teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, yang datang untuk mengidentifikasi jenazah,” kata Frans Barung Mangera dalam jumpa pers di Media Center Polda Jatim, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC, Mehulika Sitepu dan Oki Budhi.

Karenanya, kata Frans Barung pula, “kami mengundang keluarga dari yang nama-namanya sudah kami umumkan untuk datang, agar bisa dilakukan identifikasi secara saintifik dengan kedokteran forensik.”

Terutama, ada mayat yang karena keadaannya yang hancur oleh bom yang mereka bawa, “yang perlu diidentifikasi DNA-nya, dicocokan dengan keluarga,” tambahnya.(bbc)