Thursday, 18 October 2018

Arzeti Protes Kalau Istora GBK Senayan Ganti Nama Bibli Arena

Kamis, 17 Mei 2018 — 13:08 WIB
arzetiling

JAKARTA – Kabarnya, nama Istora Senayan yang dibangun jaman Bung Karno akan berubah nama menjadi Blibli Arena, sesuai nama sponsor penyumbang dana untuk perawatannya.

Perubahan nama Istora Senayan menjadi perbincangan hangat jelang kejuaraan bulu tangkis Indonesia Terbuka 2018 pada Juli mendatang. Nama Blibli Arena itu diusulkan oleh sponsor kerjuaraan tersebut, Bibli.com.

Untuk rencana perubahan nama tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dikabarkan juga ditak mempersoalkan pergantian nama Istana Olahraga (Istora) di kompleks Gelora Bung Karno.

Atas perkembangan itu, anggota Komisi X DPR RI Arzeti Bilbina menolak jika nama Istora Senayan berganti nama menjadi Blibli Arena.

Baginya, Istora Senayan memiliki nilai sejarah, dan itu tidak jauh berbeda dengan nilai-nilai bangunan bersejarah lainnya. Istora GBK merupakan heritage building (bangunan warisan sejarah) yang harus dipertahankan baik dari keaslian bangunannya maupun namanya.

“Sebuah bangunan bersejarah harus dipertahankan, baik dari sisi keaslian bangunan maupun namanya. Jika terpaksa bangunan itu harus direnovasi, karena sudah uzur dan banyak yang rusak, desain aslinya tetap harus menonjol,” ujar Arzeti.

Menurut Arzeti, keaslian bangunan ini bisa dilihat dari sisi kultur, sejarah, arsitekturnya, dan fungsinya. Dan ini merupakan kekayaan keaslian Indonesia yang tidak ternilai.

Politisi PKB ini melihat bahwa nama sebuah bangunan bersejarah bukan hal sepele. Nama juga mengandung nilai sejarah yang tinggi.

“Saya heran, coba dibaca lagi sejarah Gelora Bung Karno ini. Gedung itu dibangun untuk menyelenggarakan Asian Games dan di antaranya oleh Soekarno pada saat itu untuk memecahkan situasi perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet,” tuturnya.

“Saat itu pembangunan gelora senayan memang proyek mercusuar nya Soekarno, di tengah situasi ekonomi dan politik yang sulit. Tapi dengan dibangunnya Gelora Bung Karno dan digelarnya pesta olahraga dilevel asia, Indonesia tampil menjadi negara nonblok yang sangat diperhitungkan,” tambahnya.

Dalam hal ini, Arzeti mengungkapkan bahwa dirinya sangat memahami bahwa pembinaan dunia olahraga di Indonesia kekurangan biaya. Munculnya sponsor adalah nafas segar untuk sarana dan prasarana olahraga. Namun, kata dia, kontrak dengan sponsor ini juga harus arif.

“Jangan lantas karena kita kekurangan biaya, lantas kita melanggar nilai nilai yang kita miliki. Sponsor kita butuh, tapi tidak boleh semuanya dibeli oleh pemilik modal. Apalagi sampai menghilangkan kesejarahan. Diaturlah klausul kontraknya agar tidak saling merugikan. Masih banyak cara kok, saya yakin,” ungkapnya. (*/win)