Saturday, 26 May 2018

Cerita Mistis dari Rumah Terduga Teroris Ditembak Mati Densus

Kamis, 17 Mei 2018 — 21:58 WIB
Warga Rusunawa Wonocolo tengah menunjuk tempat tinggal Anton terduga teroris yang tewas pada Minggu (13/5) malam.(guruh)

Warga Rusunawa Wonocolo tengah menunjuk tempat tinggal Anton terduga teroris yang tewas pada Minggu (13/5) malam.(guruh)

SIDOARJO – Pasca-meledaknya bom di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Wonocolo, Jalan Wonocolo Selatan, Sidoarjo, yang menewaskan terduga teroris Anton Ferdiantono, 47, beserta anak dan istrinya, meninggalkan cerita mistis.

Mengingat Anton dan keluarganya cukup lama tinggal di rusun milik pemerintah tersebut. Anton beserta istrinya, Sari Puspita Rini, 47, dan ketiga anaknya yakni Rita Aulia Rahman, Faizah Putri, 11, dan Garida Huda Akbar, 10, tinggal di lantai 5 blok B No.2. Sedangkan anak keduanya, Ainur Rahman, 15, tinggal bersama Sukowati, orang tua Anton yang tinggal di lantai yang sama bernomor B-5.

Di Rusunawa tersebut juga dihuni adik Anton bernama Adhi dan istrinya, Ningrum yang berada di unit nomor 20. Menurut Pungki, penanggung jawab Rusunawa Wonocolo Blok B, suasana menyeramkan terjadi pasca kejadian penggerebekan oleh Densus 88. Bau anyir darah masih kerap tercium dari dalam tempat tinggal Anton.

“Sampai sekarang belum ada warga yang berani melintas di depan rumah Pak Anton karena memang masih bau amis dan bikin bulu kuduk merinding,” ungkap Pungki, Kamis (17/5/2018).
Ketakutan warga, menurut Pungki beralasan. Pasalnya saat kejadian banyak darah berceceran di lantai sampai ke tangga. “Jenazah dibawa ke bawah. Darah di mana-mana. Wajar kalau warga sampai sekarang takut,” tukasnya.

Saking takutnya, Pungki mengatakan warga telah mengadakan pengajian di lantai tersebut. Termasuk mengganti seluruh lampu di lantai 5. “Dulu lampu disini minim. Sekarang dipasang biar lebih terang,” tandasnya.

Lebih lanjut Pungki tidak menampik bila sikap Anton berbeda dengan warga lainnya. Anton dikenal kurang bergaul. Sekalipun papasan dengan Antonpun tidak menyapa. Kendati demikian ia tidak menaruh curiga bahwa tetangganya itu merupakan salah satu anggota terduga teroris.

“Saya tidak curiga. Tapi memang sejak sebulan lalu anak pertama Anton yaitu Rita Aulia Rahman mengubah penampilannya dengan bercadar,” ucap Pungki.

Adanya cerita mistis juga diakui Budi, petugas keamanan Rusunawa Wonocolo. Dikatakannya lantai tempat Anton tinggal memang cukup sepi saat ini. Banyak penghuni yang enggan keluar rumah saat malam hari. “Saat patroli, saya sering dengar suara cetak cetok dari dalam rumah Pak Anton. Padahal kondisinya kan gelap dan dipasangi garis polisi,” ujar Budi. Menurut Budi, keluarga Anton sudah tinggal di Rusunawa Wonocolo sejak 2,5 tahun lalu.

Hal yang sama juga diungkapkan Siska yang merupakan tetangga sebelah Anton dan keluarga. “Horor. Takut ya pasti. Apalagi sehari-hari kan memang sering ketemu,” ujar Siska yang tinggal tepat disamping rumah Anton. Siska sendiri mengaku baru tinggal di Rusunawa bertarif sewa Rp210 ribu/bulan ini sejak 1,5 tahun terakhir.

Lebih lanjut sebagai tetangga yang paling dekat Siskapun mengaku tidak menyangka bahwa Anton dan kelurganya merupakan anggota teroris. “Ya sebelum kejadian memang sering terdengar suara seperti orang mengerjakan sesuatu. Tapi saya nggak curiga. Karena kebetulan saya bekerja. Pergi pagi pulang sore. Jadi jarang keluar dan kumpul warga juga,” tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, bom meledak di Blok B lantai 5 No.2 Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018) malam tiga orang yang teridentifikasi bernama Anton Ferdiantono, Sari Puspita Rini dan Rita Aulia Rahman tewas dalam kejadian tersebut. Sedangkan dua anak lainnya Faizah Putri dan Garida Huda Akbar selamat. Setelah diselamatkan Ainur dan saat ini tengah menjalani perawatan di RS Bhayangkara, Surabaya.(guruh/b)