Monday, 19 November 2018

KOMITMEN KEBANGSAAN

Kamis, 17 Mei 2018 — 5:55 WIB

Oleh Harmoko

SETIAP kali ada serangan terorisme, aksi-aksi intoleran di berbagai lokasi, kepala kita tertunduk. Kembali jatuh korban warga yang tak berdosa, bahkan dalam kasus bom di Surabaya, ada korban anak – anak baik di antara korban maupun pelaku. Bagaimana bisa di hari ini mereka tak bisa menjaga diri dari pengaruh radikalisme?

Kita selalu bertanya seberapa kuat komitmen kebangsaan kita. Mengapa begitu rapuh. Mengapa ada kebencian terhadap warga yang berbeda iman, berbeda agama, sebegitu rupa. Bukankah dalam Islam yang dianut mayoritas mengenal semboyan yang jelas, “bagiku agamaku, bagimu agamamu”.

Sekali lagi, kita sebagai warga negara Indonesia diuji atas komitmen kebhinekaan kita. Jelas sekali para pelaku tidak mewakili aspirasi elemen masyarakat beradab mana pun, karena hidup bersama dalam banyak suku, agama, ras, dan golongan adalah berkah Indonesia. Kita harus merawat komitmen kebhinekaan itu.

Tanpa ada komitmen itu, sebagai bangsa, Indonesia akan terus berada dalam situasi kacau balau serta karut marut.

Sejak mula negeri ini dibangun dengan perbedaan. Tokoh-tokoh pendiri bangsa tersebar dari Aceh hingga Papua. Dan, kita berkomitmen untuk menjaga kebersamaan, dengan panji Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai penaungnya.

Pancasila bukan hanya falsafah hidup bangsa Indonesia yang disepakati, melainkan juga perekat persaudaraan kita.

Bangsa ini juga tidak boleh membiarkan nilai-nilai yang bertentangan dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tumbuh subur.

Kita telah dikagumi dunia karena persatuan ini. Benua Eropa terpecah dalam berbagai negara. Demikian pula jazirah Timur Tengah terpecah dalam 18 negara. Namun, Nusantara kita, sungguh amat luas dan panjangnya. Semua bersatu dalam perbedaan. Dalam kebhinekaan. Sebagai berkah dari Ilahi.

Mari kita terus merawat kebhinekaan dan perbedaan. Kita tidak harus menjadi musuh karena berbeda. Anda tak bisa meminta lahir sebagai Tionghoa, Jawa, Batak, Bali, atau Toraja. Itu adalah pemberian Tuhan Yang Maha Esa, kita hanya mensyukuri dan merawat dan memaksimalkan potensinya.

SEJAK reformasi bergulir, tahun 1998, era pembatasan dan kungkungan pada masa Orde Baru berubah menjadi kebebasan – nyaris tiada batas. Nyaris semua ideologi dileluasakan untuk tumbuh dan berkembang, bahkan ideologi yang terang terangan ingin mengganti ideologi Pancasila.
Ancaman nyata kepada Indonesia kini bukan hanya dari luar, yang melancarkan peran proxy, melainkan dari dalam sendiri, ketika elemen- elemen bangsa menonjolkan egonya untuk berkuasa, dan menonjolkan golongannya, mengabaikan kebhinekaan yang sudah berpuluh tahun terjaga.

Paham kebersamaan dan kebhinekaan dicoba disisihkan dengan ideologi yang menguasai dan menundukkan. Ketika dunia lewat teknologi informasi semakin banyak mengumpulkan informasi mendapat kebebasan mengolah, justru tumbuh ideologi kebalikannya, konservatifisme, puritanisme.

Ini yang harus dipahami. Kita menolak penjajahan imperialisme baru dari Amerika dan Eropa, juga penjajahan budaya dari Timur Tengah, India dan China. Kita menerima kehadiran mereka untuk diolah dan dibentuk sebagai budaya sendiri. Sebagai Indonesia baru.

Kita memiliki kebaya yang berbeda dengan baju kurung Malaysia, None Jakarta jelas sangat terpengaruh oleh budaya China, tapi bukan China. Baju Koko demikian pula, yang kini dikenakan sebagai identitas muslim, yang meneruskan Teluk Belanga di Tanah Melayu.

Indonesia baru dalam bentukan berbagai suku, agama, ras, dan golongannya memiliki hak yang sama untuk hidup di Indonesia. Tidak ada kelompok mayoritas yang merasa lebih memiliki hak atau minoritas yang merasa diabaikan dalam lindungan asas Pancasila.

Nilai kebangsaan Indonesia terletak pada Bhinneka Tunggal Ika dan bukan asas yang lain. ***