Thursday, 18 October 2018

Perlu Saling Menghargai

Kamis, 17 Mei 2018 — 4:51 WIB

HARI ini, Kamis, 17 Mei , memasuki 1 Ramadhan 1439 Hijriah. Bulan suci puasa disambut antusiasme warga Jakarta. Spanduk dan poster bertuliskan, “Marhaban Ya Ramadhan” bertebaran. Ucapan serupa juga memenuhi ruang media sosial.

Menambah suasana sejuk, Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 17/ 2018 tentang Waktu Penyelenggaraan Usaha Pariwisata pada bulan suci puasa dan Idul Fitri.

SE ini mewajibkan beberapa tempat hiburan tutup sementara, seperti klub malam, diskotek, mandi uap, rumah pijat, bar yang berdiri sendiri atau terdapat di klub malam, bola sodok atau biliar yang masuk dalam diskotek atau tempat hiburan lain. Mereka wajib tutup pada satu hari sebelum Ramadhan hingga satu hari setelah Idul Fitri.

Namun ingat, ada beberapa jenis tempat hiburan lain yang boleh buka, tetapi jam operasionalnya diatur. Misalnya, karaoke tetap beroperasi mulai pukul 14.00WI-02.00 WIB, karaoke usaha eksekutif beroperasi pukul 20.30 WIB-01.30 WIB, bola sodok (biliar) berdiri sendiri beroperasi pukul 10.00 WIB-24.00 WIB, pub musik beroperasi pukul 20.30 WIB-01.30 WIB.

Meski telah mengeluarkan SE tentang Waktu Penyelenggaraan Usaha Pariwisata, tetapi Wakil Gubernur Sandiaga Uno dengan lantang mengingatkan kembali pengelola tempat hiburan untuk mematuhi aturan yang berlaku. Bila membandel izin operasionlnya dicabut.

Bukan itu saja, Sandiaga juga melarang keras organisasi masyarakat (ormas) mensweeping tempat hiburan. Soal tutup-menutup dan memberikan sanksi bukan wewenang ormas. Serahkan saja sepenuhnya kepada aparat.

Sikap tegas seperti itu memang diperlukan. Berdasarkan pengalaman, walau sudah ada aturannya masih saja tempat hiburan yang melanggar. Parahnya, aparat terkait terkesan tutup mata, sehingga mengundang sejumlah ormas bergerak dan mensweeping tempat hiburan.

Aturan berupa SE tentang Waktu Penyelenggaraan Usaha Pariwisata sudah diterbitkan. Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6/2015 tentang Kepariwisataan sebagai payung hukum untuk memberikan sanksi terhadap tempat hiburan yang melanggar juga sudah ada. Kini saatnya semua pihak sepakat mematuhinya.

Tidak ada yang menampik, industri pariwisata di Jakarta termasuk tempat hiburan adalah sektor usaha yang menyumbang kontribusi besar terhadap Penerimaan Asli Daerah (PAD). Namun mematuhi aturan adalah di atas segalanya.

Bila semua pihak memegang teguh aturan, maka kenyamanan dan ketentraman pada Ramadhan tetap terjaga. Berbanding lurus, umat Islam bisa menjalankan ibadah puasa dengan khusuk. Yuk, kita saling menghargai dan mematuhi atuaran yang berlaku. @*