Thursday, 16 August 2018

Puasa Ramadhan Masih Kuat Tapi Kalau Puasa WhatsApp?

Kamis, 17 Mei 2018 — 6:42 WIB
main-hp

KEMAJUAN teknologi tak bisa dihambat. Seperti di era gombalisasi sekarang ini, ketika aplikasi WhatsApp sudah merasuk ke jagad maya, di belahan bumi manapun manusianya pada kecanduan. Nah, hari ini kita menapaki Ramadhan 1439 H. Untuk puasa selama 30 hari, pasti selalu kuatlah. Tapi kalau puasa Whatsapp? Siapa tahan?

Setiap Ramadhan tiba, ustadz-ustadz selalu mengingatkan, janganlah puasa hanya memperoleh lapar dan dahaga belaka. Harus banyak amalan yang membawa pahala, menuju ke umat muslim yang kaffah (total). Tentu ini tidak mudah, sebab godaan orang puasa itu ombyokan, meski setiap di bulan Ramadhan para setan tersebut dibelenggu.

Makan dan bersetubuh di siang hari, jelas-jelas membatalkan puasa, dan ini bisa dikenali dengan mudah. Tapi jika mempergunjingkan orang atau ghibah, apakah batal puasanya? Puasanya sih tidak batal, tapi akan mendapatkan dosa akibat dari membicarakan kejelekan orang tersebut.

Di era gombalisasi sekarang ini, ber-ghibah difasilitasi piranti lunak bernama HP smartphone dengan aplikasi WhatsAap atau WA. Di luar bulan Ramadhan, di sudut kota manapun, baik yang di rumah maupun di atas kendaraan, baik yang umum maupun pribadi, selalu ditemukan orang-orang yang bersibukria bermain WA. Sebentar-sebentar buka HP-nya lalu layar ditarik ke atas, ditarik ke bawah, dipersempit dan diperlebar, asyik sekali.

Di bulan Ramadhan ini, dipastikan semakin banyak umat ber-WA-ria. Alasanya untuk menunggu sore atau ngabuburit kata orang Ciamis. Nah, di sinilah orang bisa terjebak ghibah saat main di jalur jaringan pribadi maupun grup, termausuk juga di twitter. Saking asyiknya, komentar sana komentar sini, salah-salah melukai hati orang yang terkena. Apalagi yang di jalur twitter, dampaknya bisa menasional.

Maka yang berghibah di jagad medsos, harus hati-hati, jangan terbawa arus. Qur’an telah mengingatkan, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain.” (Al-Hujurat ayat 12).

Nah, keasyikan nge-WA dan ngetwit bisa terjebak ke ghibah. Bukan saja dosa, tapi bisa juga jadi masalah. Lihatlah berita seputar bom Surabaya, ada sejumlah orang ditangkap polisi gara postingan ujaran kebencian. Bahkan seorang pimpinan parpol didemo gara-gara dinilai melecehkan kerja polisi memberantas terorisme. – gunarso ts