Tuesday, 25 September 2018

Marbot Ini Tak Percaya Bisa Berangkat Umroh

Jumat, 18 Mei 2018 — 1:18 WIB
Darkum saat menerima ucapan selamat dari pengusaha yang memberangkatkan umroh. (chotim)

Darkum saat menerima ucapan selamat dari pengusaha yang memberangkatkan umroh. (chotim)

BAGI Darkum, berangkat ke Tanah Suci Mekkah adalah angan-angan yang sulit digapai. Betapa tidak. Mau pulang ke kampungnya di Kuningan, Jabar saja kerap terkendala biaya. Marbot musala ini tak bisa membendung air mata ketika tiba-tiba ada yang membiayainya berangkat umroh.

Darkum, Marbot Musala Al-Mudzakaroh, Kramatjati, Jaktim, sungguh tak menyangka bisa ke tanah suci. Bahkan, sampai saat dia kembali pulang ke tanah air, dia masih belum percaya. “Saya seperti mimpi. Jangankan ke tanah suci, pulang kampung ke Kuningan pun mikir biayanya,” katanya.

Tapi inilah rejeki, tidak mengenal siapa penerimanya, karena rejeki datangnya dari Allah dan bisa diberikan kepada siapa saja, termasuk Pak Darkum.

Akhir bulan lalu dia berangkat umroh dibiayai oleh seorang donatur. Dia dipilih setelah salah satu ustadz di musala yang dijaganya mencari orang yang pantas mendapat hadiah kejutan ini.

“Tadinya saya tidak tahu. Kok tiba-tiba pak ustadz minta saya bikin paspor. Beliau juga tidak ngomong untuk apa,” kata kakek satu cucu yang akrab disapa Pak Otong ini.

Setelah dia diberi uang untuk suntik meningitis, dia mulai curiga. “Jangan-jangan saya mau diberangkatkan umroh ni, katanya dalam hati. Setelah saya tanya, ternyata benar. Ini untuk keperluan umroh. Lemes lah saya. Gak bisa ngomong,” ucap Pak Otong dengan mata berkaca-kaca.

Pak Otong baru mengetahui, dia diberangkatkan gratis oleh satu pengusaha. Dia berangkat pada 6 sampai 14 Mei 2018. “Ada donatur dari Bekasi yang membayari,” cerita Pak Otong.
TAK PUNYA BEKAL

Pak Darkum masih saja galau meski sudah mengurus semua persyaratan keberangkatannya ke tanah suci. “Saya nggak punya bekal. Sama sekali,” katanya.

Rupanya, kabar ini cepat menyebar. Lagi-lagi Allah kembali memberi rezeki pada Pak Otong. Jemaah musala banyak yang terkaget dan bersyukur. Mereka merogoh kocek, saweran membantu bekal yang diperlukan. “Alhamdulillah. Untuk bekal dan ninggalin keluarga akhirnya ada,” tambah Pak Otong.

Bisa berangkat ke tanah suci memang sama sekali tidak dipikirkannya. Jangankan masalah biaya, caranya juga ia tidak tahu. Alhamdulillah. Rejeki memang sering tak disangka asalnya. Seperti halnya Pak Darkum, marbot mushola yang bisa berangkat ke tanah suci, yang selama ini dirindukannya. (chotim/fs)