Tuesday, 14 August 2018

Mudik Lebaran Rp30 Triliun Mengalir ke Daerah

Jumat, 18 Mei 2018 — 1:48 WIB
mudik st senen(toga3)

JAKARTA – Di musim mudik Lebaran, banyak uang yang akan ‘hijrah’ dari kota besar ke kampung. Jumlahnya puluhan triliun rupiah.

“Tahun lalu saya pelajari, uang dari Jakarta ke daerah pada musim Lebaran sedikitnya Rp30 triliun,” kata pengamat ekonomi, Ichsanuddin Noorsy, Kamis (17/5/2018).

Dari 9 jutaan penduduk Jakarta, bila diasumsikan jumlah pemudik 6 juta warga, rata-rata paling sedikit membawa uang Rp5 juta. Jadi, kalau jumlah pemudik dikalikan dengan uang sebesar itu, jumlahnya mencapai puluhan triliun. “Itu kalau mereka mudik di wilayah Jawa. Di luar Jawa, mereka pasti membawa uang di atas Rp5 juta,” jelas dia.

Uang yang dibawa pemudik Rp5 juta itu buat ongkos pulang pergi serta bekal di jalan. Sedangkan uang buat kebutuhannya selama di kampung halaman, mereka menyiapkan lagi.

KEPIAWAIAN PEMDA

Karena itu, Ichsanuddin mengungkap uang yang hijrah ke kampung pada masa Lebaran nanti sangat besar, sehingga dana yang ‘hijrah’ dari kota ke daerah tersebut sebenarnya bisa digunakan menggerakkan roda perekonomian di daerah.

“Sekarang kembali kepada kepiawaian pemda setempat, bisa tidak mengolah dana tersebut untuk menggerakkan perekonomiannya,” terang Ichsanuddin.

Menkeu Sri Mulyani sendiri mengaku pertumbuhan ekonomi nasional pada semester pertama 2018 yang diproyeksikan 5,7 persen bakal tercapai. Ini karena ada Lebaran.

Sebab pada masa Lebaran, daya beli masyarakat pasti terdongkrak. Konsumsi konsumsi meningkat tajam. Masyarakat mengorek seluruh uangnya untuk menutupi semua kebutuhan Lebaran, termasuk biaya transportasi mudik.

Hanya saja, ia menyayangkan pemerintah mengandalkan pertumbuhan ekonomi dari sektor konsumsi. Seharusnya yang digenjot adalah ekspor, investasi dan sebagainya agar roda perekonomian nasional terus bergerak.

“Kalau ekspor meningkat, impor bisa ditekan, maka uang akan terus berputar di masyarakat. Sehingga daya beli tinggi dan pada akhirnya roda perekonomian tidak stagnan seperti sekarang,” kata Ichsanuddin. (bi/ird)