Tuesday, 13 November 2018

Sudah Proses Perceraian Tetapi Masih Minta Jatah

Senin, 21 Mei 2018 — 5:59 WIB
kdrt

LAGI-LAGI kemiskinan menjadikan rumahtangga goyah. Cecep, 35, yang pengangguran, membuat istrinya, Nuriasih, 28, menggugat cerai. Anehnya, perceraian sudah diproses, kok Cecep masih minta “jatah”, tentu saja istri menolak. Ternyata Cecep naik pitam dan istrinya dibekap pakai bantal hingga tewas.

Betapapun cintanya setinggi gunung Mahameru, tetap saja cinta itu tak bisa dinikmati dengan perut kosong. Pasokan onderdil harus berbanding lurus dengan pasokan materil. Jika tak seimbang, pasti ada yang rewel, terutama istri. Masak orang berumah tangga cukup dengan kelon, pasti butuh juga klepon.

Cecep warga Jalancagak, Subang, terlalu pede menjalani hidup. Pekerjaan tidak jelas berani ngawini anak orang. Akhirnya biaya ekonomi sehari-hari jadi beban antar besan. Para orangtua tentu saja tidak tega melihat cucu nangis tak bisa makan.

Nuriasih berulangkali mendesak agar Cecep bekerja yang bener, jadi apa saja kek. Tapi suaminya selalu beralasan bahwa mencari kerja itu tidak gampang. Jaman sekarang dengan modal ijazah SMA tak laku untuk mencari kerja. Paling-paling jadi tukang cleaning service. Cecep merasa gengsi pekerjaan seperti itu. “Jauh-jauh ke Jakarta kok hanya jadi tukang ngepel.” Kata batinnya berasalan.

Maka dia pilih jadi pekerja serabutan, tapi di kampung sendiri. Resikonya, pendapatan kecil, kadang-kadang seminggu tak ada yang memberi pekerjaan. Terpaksa buat makan sekeluarga disponsori mertua. Itu sering sekali, tapi Cecep tak juga merasa malu.

Tapi Nuriasih yang merasa risih dan malu. Karena suami tak bisa dibilangi bagaimana mengubah nasib keluarga, akhirnya dia memilih bercerai saja. Bagaimana mungkin, rumahtangga sudah dijalin 5 tahun, tapi hasilnya hanya anak doang. Rumah masih numpang punya mertua. Perabotan rumahtangga di dalam kosong melompong, sampai bisa buat main futsal.

Dengan berat hati Cecep mengabulkan permintaan istri. Keduanya mengurus ke Pengadilan Agama Subang. Setelah beberapa kali sidang, keduanya masih menunggu proses selanjutnya; dikabulkan atau ditolak Pengadilan.

Karena yang mengajak cerai bini, sebetulnya Cecep tetap sayang sama bini. Maka seperti yang terjadi beberapa hari lalu, malam-malam selepas main ke rumah tetangga, Cecep minta “jatah” sebagai suami. Istri yang sudah kesal akan kelakuan suami, tak lagi selera melayani kebutuhan biologis Cecep yang masih suaminya itu.

Cecep tetap mendesak dengan alasan masih istri sahnya, yang halalan tayiban wa asyikan. Tapi Nuriasih tetap menolak. Libido yang sudah naik ke ubun-ubun kok ditolak, menjadikan Cecep emosi. Saat mereka bertengkar di kamar, dia tega membekap wajah istrinya dengan bantal, sampai tak bisa bernapas. Hanya beberapa menit, Nuriasih dinyatakan tewas.

Namun demikian Cecep masih bisa main sinetron, dia lapor polisi bahwa istrinya mati mendadak. Polisi pun memeriksa jenazah, ternyata banyak kejanggalan. Setelah diotopsi ketahuan bahwa korban mati kehabisan napas. Cecep pun diperiksa intensip sampai kemudian ngaku sebagai pembunuhnya. “Habis diajak hubungan intim kok menolak,” katanya polos.

Istri sudah ogah tapi maksa, itu namanya…..pekok! (PE/Gunarso TS)