Tuesday, 21 August 2018

104 Mantan Tentara Turki Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup

Selasa, 22 Mei 2018 — 21:03 WIB
Para terdakwa dikawal ketat ketika memasuki ruang sidang pada Selasa (01/08).

Para terdakwa dikawal ketat ketika memasuki ruang sidang pada Selasa (01/08).

TURKI– Pengadilan Turki menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada 104 mantan prajurit militer yang didakwa terlibat dalam percobaan kudeta yang gagal pada 2016 lalu, lapor media pemerintah.

Mereka dijatuhi ‘hukuman seumur hidup yang berat,’ yang persyaratannya lebih ketat daripada hukuman penjara seumur hidup biasa.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelumnya mengatakan bahwa ia mendukung pemberlakuan kembali hukuman mati bagi dalang percobaan kudeta.

Kudeta yang gagal menggulingkan Presiden Erdogan itu terjadi pada 15 Juli 2016, mengakibatkan sedikitnya 260 orang tewas dan 2.200 lainnya luka-luka.

Pemerintah Turki sejak saat itu melancarkan tindakan keras terhadap para terduga pendukung kudeta, memecat lebih dari 1.500 pegawai negeri dan menangkap sekitar 50.000 orang.

Selain 280 eks-militer di persidangan, pengadilan di Izmir juga menjatuhkan hukuman yang lebih ringan pada 52 terdakwa.

Pengadilan memvonis 20 tahun penjara kepada 21 orang yang dinyatakan bersalah ‘membantu upaya pembunuhan presiden,’ sedangkan 31 lainnya divonis antara 7 dan 11 tahun sebagai ‘anggota organisasi teroris,’ lapor kantor berita pemerintah Anadolu.

Presiden Erdogan sebelumnya menyatakan dukungan bagi pemberlakuan kembali hukuman mati, untuk dijatuhkan bagi para dalang kudeta. Ia berkata mereka harus mengenakan seragam tahanan ala Teluk Guantanamo.

Turki menghapuskan hukuman mati pada 2004.

Pemerintah Turki menuduh kudeta pada 2016 itu digerakkan oleh kelompok yang loyal pada ulama terkenal Fethullah Gulen, yang bermukim di Amerika.

Gulen, yang mengasingkan diri ke AS sejak 1999, membantah keterlibatannya, dan Washington sampai saat ini menolak permintaan Turki untuk mendeportasinya.
Kelompok pemberontak berusaha menggulingkan pemerintahan dalam semalam dan perencana kudeta berusaha menahan Erdogan saat ia berlibur di sebuah resor di Kepulauan Aegea.

Namun Erdogan telah pergi 15 menit sebelumnya, dan kudeta digagalkan oleh rakyat dan tentara yang loyal kepada sang presiden.

Kudeta disusul dengan upaya pembersihan, yang memecat atau menangkap ribuan pegawai publik, dari petugas polisi sampai guru, atas dugaan menggerakkan perselisihan.

Pengkritik Erdogan menuduhnya menggunakan pembersihan ini untuk melumpuhkan lawan politik.(BBC)