Tuesday, 13 November 2018

Dulu Hidup Melarat Kini Jadi Orang Hebat

Kamis, 24 Mei 2018 — 7:45 WIB
Saleh P Daulay, Anggota DPR

Saleh P Daulay, Anggota DPR

WAKIL Ketua Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay sejak kecil hidupnya penuh dengan keprihatinan. Sejak balita ia sudah menjadi yatim. Ibunya sebagai single parent, harus banting tulang demi membesarkan 6 anaknya. Kini siapa sangka, dulu hidupnya melarat kini jadi orang hebat.

Sosok ini bisa menjadi inspirasi karena dengan keterbatasan ekonomi dalam hidupnya, tapi ia mampu sekolah di luar negeri dan sekarang menempati jabatan politik di DPR. Modalnya tidak pernah patah semangat dalam belajar.

“Jangan patah semangat dalam hidup ini, karena kalau kita ada kemauan pasti Allah SWT akan memberikan jalan,” terang Saleh Daulay membuka pembicaraan dengan Pos Kota, baru-baru ini.
Saleh Daulay pun menceritakan bagaimana ayahnya meninggal dunia ketika usianya belum genap dua tahun. Ia bersama ke-6 saudaranya dibesarkan oleh ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai petani. “Beberapa petak sawah peninggalan ayah saya menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya,” katanya.

Saleh Daulay menilai ibunya seorang pahlawan bagi diri dan saudara-saudaranya. Meski hidup serba kekurangan, namun ibunya tidak pernah menyerah untuk terus berjuang memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, terutama dalam urusan pendidikan.

Saleh Daulay, dilahirkan di Sibuhuan, Ibukota Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara ini, memiliki cita-cita yang luhur sejak kecilnya menghabiskan waktu untuk belajar.

Di pagi hari, ia belajar di Sekolah Dasar Negeri 142932 (SDN 2) Sibuhuan, sementara di sore hari ia belajar di sekolah madrasah ibtidaiyah yang tidak jauh dari rumahnya.

MERANTAU

Pada malam hari, ia juga harus belajar mengaji Alquran di rumah seorang guru mengaji di kampung halamannya. Berkat dorongan, bimbingan, dan arahan dari ibunya, pendidikan dasar tersebut dapat dilalui dengan baik.

Singkat cerita, sampailah memberanikan diri untuk “merantau” ke kota Medan untuk melanjutkan di Madrasah Aliyah Negeri I Medan.

“Karena kemampuan ekonomi ibunya yang serba terbatas, saya terpaksa harus sekolah sekaligus bekerja. Banyak ragam pekerjaan yang dilakukannya sembari ia menyelesaikan pendidikannya,” tambahnya.

Karena ketekunannya itu, akhirnya berhasil menamatkan pendidikan dari USU pada tahun 1997, ia melanjutkan kuliah Pascasarjana di UIN Syari mendapatkan tiket untuk berangkat ke Amerika Serikat untuk melanjutkan study dari beasiswa Ford Foundation. Meski melalui seleksi yang sangat ketat dan melelahkan, akhirnya beasiswa itu kemudian mengantarkannya untuk menambah pengetahuan di negeri Paman Sam, tepatnya di Colorado State University.

“Sebab itu, saya berharap kepada anak-anak Indonesia agar jangan patah semangat dalam belajar atau sekolah,” pinta Saleh Daulay.

Ia mengakui memang tidak sedikit anak-anak Indonesia yang tidak memiliki kesempatan yang sama untuk bisa belajar di sekolah karena keterbatasan ekonomi.

“Sebab itu bagi mereka yang mampu seharusnya bisa berbagi untuk menolong mereka agar memiliki kesempatan yang sama bisa belajar di sekolah,” ucap Saleh. (Johara/bi)