Wednesday, 14 November 2018

Soal Daftar 200 Mubaligh, Menag Dikeroyok Komisi VIII DPR

Kamis, 24 Mei 2018 — 21:18 WIB
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, Kamis (24/518). (timyadi)

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, Kamis (24/518). (timyadi)

JAKARTA – Rapat kerja Komisi VIII DPR dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin digunakan anggota Dewan untuk meminta penjelasan kebijakan dikeluarkannya daftar 200 nama mubaligh. Menag seakan dikeroyok dengan berbagai pertanyaan dari para anggota Dewan

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang mengatakan, rilis dari Kementrian Agama dengan alasan apapun tidak bisa diterima karena telah menimbulkan polemik ditengah masyarakat.

“Daftar ini katanya karena permintaan, tapi sebelumnya ada hal lain. Karena ada mubaligh yang tidak pro NKRI supaya masyarakat tidak keliru milih dai (ulama), kalau itu jadi alasan bukan hanya ceroboh tapi berbahaya,” kata politisi PKB, dalam raker di DPR, Kamis (24/5/2018).

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI TB Hasan Syadzily juga menilai kebijakan Lukman Hakim telah bertentangan dengan kebudayaan. Sebab, para alim ulama atau mubalig muncul bukan dari Negara tetapi proses panjang di masyarakat.

Untuk itu, jika ada sertifikasi ulama sebaiknya organisasi Islam juga dilibatkan agar jelas parameter kualifikasi tersebut. “Terpenting parameter yang ditetapkan Pak Menteri. Seperti pendidikan, keahlian, pengalaman. Soal orangnya serahkan ke organisasi keagaman biar mereka yang urus,” tandas politikus Partai Golkar itu.

Bahkan, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Sodik Mudjahid mendesak agar Kementrian Agama menghentikan rilis nama-nama mubalig karena tidak menyelesaikan permasalahan.

Selain itu, politikus Partai Gerindra tersebut juga meminta agar Lukman Hakim meminta maaf atas kebijakan yang menimbulkan polemik tersebut.

“Stop saja. Dikurangi tidak menyelesaikan masalah. Ditambah tidak selesaikan masalah. Mungkin ada permintaan maaf dari pak menteri yg menyejukkan ramadhan kita,” tandasnya. (timyadi/win)