Thursday, 19 September 2019

Bocah Usia 12 Tahun Ini Ikut Berangkat Haji

Jumat, 25 Mei 2018 — 21:02 WIB
Muhammad Nurul Iman yang mau berangkat haji

Muhammad Nurul Iman yang mau berangkat haji

BEKASI – Haji adalah ziarah Islam tahunan ke Mekkah, kota suci umat Islam, dan kewajiban wajib bagi umat Islam yang harus dilakukan setidaknya sekali seumur hidup mereka. Haji dilakukan oleh semua orang muslim dewasa yang secara fisik dan finansial mampu melakukan perjalanan, dan dapat mendukung keluarga mereka selama ditinggal.

Haji adalah satu dari lima Rukun Islam, di samping Syahadat,Salat, Zakat, dan Puasa, Haji adalah pertemuan tahunan terbesar orang-orang di dunia. Keadaan yang secara fisik dan finansial mampu melakukan ibadah haji disebut istita’ah.

Adalah Muhammad Nurul Iman, 12, pelajar Madrasah Tsanawiyah Negeri (MtsN) Serang, Kabupaten Bekasi bersama ibu, nenek, seroang kakak dan dua bibinya mencoba menjadi calon jamaah haji, “Semuanya ada enam orang daftar haji,” ujar Iman, sapaan bocah warga Kampung Simprug RT 006/003 Desa Ciantra, Cikarang Selatan.

Ditemui Pos Kota di kantor Seksi Haji dan Umroh Kemenag Kabupaten Bekasi, Iman, sedang sibuk menandatangani berkas pendaftaran. Dia bersama, Enah, 45, sang ibu dan Ompen, 60, sang nenek serta dua bibinya mendaftar untuk berangkat haji.

SAWAH DIGUSUR

Ompen, sang nenek mengaku punya niat menghajikan semua keluarganya yang masih hidup jika sawahnya kena gusur proyek kawasan Industri, “Alhamdulillah, sebagian sawah sudah dibayar dan langsung untuk daftar haji,” katanya.

Ompen juga mengaku sebelum mendaftar keluarganya sering diolok-olok nantinya kalau sudah jadi haji disebut Haji Surnah, “Kata tetangga, hajinya karena gusuran tanah,” cetusnya sambil senyum.

Karenanya dia mengajak Iman, meski masih sekolah, “Bapakya sudah tidak ada dan kalau ditinggal kasihan, “ jelas Ompen, sambil berharap, mudah-mudahan saatnya berangkat cucunya itu sudah dewasa dan bisa menjaga ibu serta neneknya.

Sehari-hari Ompen, bekerja sebagai petani dan kehidupannya selalu dilakoni dengan hal-hal yang berba kampung, “Makan biasa nyari dari sekita rumah, terutama untuk lauk pauk,” jelasnya. Meski begitu menanamkan nilai agama dilakukan Ompen sejak anak-anak dan cucunya kecil.

Anak-anak dibekali dengan ilmu agama dan karenanya selepas SD, cucunya disekolahkan di madrasah tsanawiyah, “Biar dapet ilmu dunia dan akherat,” kata Ompen, yang mengaku sebelum mendafat haji, dia menanyakan kepada cucunya mau atau tidak,” Ternyata dia mau dan tidak minta yang lain,” jelasnya.

Ompen, mengeluarkan uang Rp 150 juta lebih untuk mendatar enam anggota keluarganya ditambah keperluan surat menyurat serta kelengkapan untuk persyaratan daftar haji, “Lebih dari Rp 150 juta,” katanya.

Dia beharap umur dan kesehatannya dapat mendukung dan sampai pada waktunya,” Mudah-mudahan panjang umur dan sehat dalam menunggu antrian,” harapnya. Karena dia mendapat informasi kalau daftar tunggu haji adalah 16-17 tahun dari mulai mendaftar. (saban/b)