Monday, 18 June 2018

Ini Sejarah Mesjid Pangeran Jayakarta

Sabtu, 26 Mei 2018 — 17:20 WIB
Masjid Jami Assalafiyah atau Masjid Pangeran Jayakarta.  (cw2)

Masjid Jami Assalafiyah atau Masjid Pangeran Jayakarta. (cw2)

JAKARTA – Masjid Jami Assalafiyah atau Masjid Pangeran Jayakarta merupakan masjid peninggalan dari Pangeran Jayakarta yang dibangun sejak 1620. Di area masjid ini, terdapat makam Pangeran Jayakarta, kerabat serta anaknya.

Raden H. Suhendar, Kepala Pengurus Masjid Jami Assalafiyah, mengatakan Jayakarta merupakan suatu jabatan, bukan nama panggilan. Pangeran Jayakarta yang kini dikenal oleh masyarakat Indonesia memiliki nama asli Pangeran Achmad Jakerta.

Kata Suhendar, Pangeran Achmad Jakerta merupakan anak dari Pangeran Sungerasa Jayawikarta. Dahulu, ayah dari pangeran Ahmad Jakerta memimpin peperangan melawan Belanda di Jakarta. Ia memiliki benteng pertahanan di kawasan Tiang Bendera, Kota, dan sangat disegani oleh pasukan penjajah Belanda akibat kehebatannya dalam pertempuran.

Namun ketika dalam pertempuran, tiba-tiba Pangeran Sungerasa dipanggil untuk kembali ke Kesultanan Banten. Akhirnya, Pangeran Achmad Jakerta menggantikan sang ayah untuk turun ke meda perang melawan penjajah.

“Pangeran Sungerasa punya anak namanya Pangeran Achmad Jakerta, yaitu Pangeran Jayakarta juga. Dia mengambil alih pimpinan bapakmya dengan dukungan dari semua lapisan masyarakat banten cirebon mana saja mendukung beliau,” terang Suhendar pada Sabtu (26/5/2018) di Masjid As-Salafiyah, Jalan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur.

Berbeda dengan sang bapak, Pangeran Achmad Jakerta lias Pangeran Jayakarta ini membangun benteng pertahanan di kawasan Mangga Dua. Tetapi pada suatu ketika, salah satu kerabat sekaligus anak buahnya tertangkap oleh pasukan penjajah Belanda. Karena Pangeran Jayakarta menuruni kelihaian berperang seperti bapaknya, ia pun juga disegani oleh pasukan Belanda. Namun ternyata para penjajah saat itu tidak mau tinggal diam, mereka pun berusaha mencari tau kelemahan Pangeran Jayakarta.

Ketika ditangkap, salah satu kerabat dan atau anak buah pangeran disiksa dan dipaksa memberi tau kelemahan pimpinannya. Maka diketahuilah apa yang menyebabkan Pangeran Jayakarta kuat dan bisa membuat pangeran ini lemah dan bisa dipukul mundur.

“Setelah diketahui kelemahan-kelemahan Pangera Jayakarta, suatu saat ada pertempuran terbuka di mangga dua kira-kira 1619. Karena sudah diketahui rahasianya, Belanda dengan mudah menerobos benteng Pangeran Jayakarta, karena itu pertempuran pangeran Jayakarta dipukul mundur,” ujar Suhendar.

Akhirnya kata Suhendar, Pangeran Jayakarta bersama sisa prajuritnya terpaksa harus kabur untuk menyusun kembali kekuatan dan strategi menghadapi para penjajah Belanda. Namun di perjalanan, Pangeran Jayakarta melepas jubah yang dikenakannya dan melemparkan ke arah sumur. Beruntung, Belanda justru melihat bukan hanya sekedar jubah saja yang ada di dalam sumur, melainkan jasad sang pangeran.

“Sedangkan pangeran jayakarta lari ke arah timur, dan pada saat itu di sini masih hutan belukar. Akhirnya tahun 1619 dia datang ke sini (Jatinegara Kaum). Nah di sini di menyusun kekuatan, dia tetap melakukan perang gerilya,” tambahnya.

Lalu pada 1620, Pangeran Jayakarta membangun masjid yang kini dikenal dengan Masjid Jami Assalafiyah. Bukan hanya sekedar dijadikan tempat beribadah saja, namun masjid ini juga menjadi temlat menyusun strategi bagi Pangeran Jayakarta dan pasukannya. Pada 1640, Pangeran Jayakarta pun wafat dan dimakamkan di area masjid tersebut.

Menurut Suhendar, Masjid Jami Assalafiyah sudah beberapa kali direnovasi dan kemudian diperluas. Tetapi beberapa bagian masjid masih tetap dipertahankan sesuai dengan bangunan awal masjid tersebut.

“Ya contohnya itu empat tiang yang ada di depan, itu masih asli dari awak dibangun sampai sekarang,” tandasnya. (cw2/yp)