Monday, 24 September 2018

Pertemuan Puncak Trump-Kim: Presiden Korea Selatan Dapat Hadir

Senin, 28 Mei 2018 — 23:40 WIB
Pertemuan dengan Kim Jong-un (kiri) akan berlangsung di Singapura, kata Donald Trump (kanan).

Pertemuan dengan Kim Jong-un (kiri) akan berlangsung di Singapura, kata Donald Trump (kanan).

KOREA- Pemerintah Korea Selatan mengatakan Presiden Moon Jae-in dapat hadir dalam rencana pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Kantor Presiden Korsel menyatakan keikutsertaan Presiden Moon tergantung pada kemajuan dalam perundingan yang sedang digelar antara delegasi Amerika Serikat dan Korea Utara.

Mereka berunding selama dua hari berturut-turut di Panmunjom, di wilayah Korea Utara yang masuk di zona bebas militer antara kedua Korea.

Gagasan pertemuan puncak antara pemimpin Korea Utara, Korea Selatan dan Amerika Serikat pertama kali diutarakan oleh Moon dan Kim ketika keduanya bertemu pertama kali pada tanggal 27 April lalu di Desa Panmunjom.

Ide itu kemudian disampaikan lagi pada Minggu kemarin (27/05), sehari setelah ia menggelar pertemuan mendadak dengan Kim.

Menuju Denuklirisasi

Pertemuan puncak bersejarah Trump-Kim rencananya akan diadakan di Singapura 12 Juni mendatang.

Rencana itu sempat dibatalkan sepihak oleh Presiden Trump. Namun sejak itu, kedua pihak tampak berusaha menghidupkan kembali rencana pertemuan.

Jika pada akhirnya terlaksana, acara itu akan tercatat sebagai pertemuan pertama antara pemimpin Korea Utara dengan presiden Amerika Serikat yang tengah menjabat.

Sejauh ini tidak banyak informasi yang dikeluarkan tentang rencana pertemuan, tetapi pembicaraan akan dipusatkan pada denuklirisasi di Semenanjung Korea dan mengurangi ketegangan.

Baik Amerika Serikat maupun Korea Utara mengutarakan rincian masing-masing tentang makna “denuklirisasi” itu.

Wartawan BBC di Seoul, Rupert Wingfield-Hayes, melaporkan delegasi AS dan Korut sedang membahas syarat minimum yang ditetapkan Amerika Serikat dan yang harus dipenuhi Korea Utara sebelum pertemuan puncak, dan apa saja yang bisa dilonggarkan oleh Korea Utara.

Dalam pertemuan ini, Amerika Serikat dipimpin oleh mantan Duta Besar AS untuk Korea Selatan, Sung Kim. Tuan rumah Korea Utara dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Choe Son-hui, yang sebelumnya menyebut Wakil Presiden Mike Pence “bodoh”.

Pernyataan tersebut muncul setelah Pence memperingatkan bahwa Korea Utara “mungkin berakhir seperti Libia” – di mana pemimpinnya saat itu Muammar Gaddafi dibunuh oleh kelompok pemberontak pada tahun 2011 setelah meninggalkan senjata nuklir delapan tahun sebelumnya.(BBC)