Thursday, 18 October 2018

Sandang Pangan di Era Digital

Senin, 28 Mei 2018 — 8:54 WIB

Oleh Harmoko
TAK bisa disangkal, kesejahteraan masyarakat kita bertambah dan terus menerus meningkat. Indonesia tak layak lagi disebut negara miskin. Apalagi negara terbelakang. Secara umum warga cukup sandang dan cukup pangan. Juga papan atau perumahan.

Dibandingkan dengan masa lalu, masa-masa para pendiri dan pemimpin negara dan aparatnya berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat, kini sudah lebih baik, karena sudah terpenuhi: sandang pangan dan papan, selalu ada. Tersedia. Daya beli masyarakat sudah jauh lebih baik. Kecukupan untuk kebutuhan dasar bagi semua, selalu ada.

Tak bisa disangkal juga ada dampak bawaan. Ketimpangan sosial masih terjadi di sana sini. Yang kaya semakin kaya, ketika masyarakat di bawah masih berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Para elite menguasai proyek- proyek penting dan mengumpulkan dana dari berbagai sumber, bukan untuk menyejahterakan rakyat dan wilayahnya, melainkan untuk memperkaya diri, dan berinvestasi untuk mendapatkan jabatan lebih tinggi.

Eskalasi atas dugaan gratifikasi dan kasus-kasus korupsi, juga penangkapan oleh KPK terus meningkat. Dugaan kasus-kasus korupsi yang tertangkap tangan aparat KPK tak lagi bernilai puluhan juta, melainkan ratusan juta, bahkan miliaran rupiah. Praktik kejahatan semakin canggih dan rumit. Juga terang- terangan.

Di daerah-daerah muncul raja-raja baru, penguasa wilayah sebagai dampak otonomi daerah. Terjadi pemerataan kesejahteraan, dalam arti yang positif maupun negatif.

Keluham masyarakat memang tak akan ada habisnya. Dulu rakyat mengeluh karena di rumah tak ada beras dan minyak, kini mereka mengeluh karena kualitas beras dan minyak tidak cukup baik.

Di tataran atas, keluhan mengapa beras masih harus impor. Padahal tanah dan sawah amat luasnya. Pemerintah memastikan stok beras tersedia, meski kadang dengan impor, karena kelangkaan beras akan berdampak luas, sistemik, ada efek domino. Menjadi politis.

Dulu rumah yang bangga dengan adanya kereta angin atau sepeda, kini sudah berganti dengan sepeda motor. Bermesin. Mereka yang dulu berumah dengan sepeda motor, sudah memiliki mobil. Yang punya mobil, memiliki lebih banyak mobil.

Keluhan baru: kemacetan lalu lintas terjadi di mana-mana. Karena semua orang punya kendaraan dan semua orang keluar rumah untuk suatu keperluan. Atau menjalankan suatu usaha, agar lebih sejahtera lagi. Kebutuhan BBM terus meningkat, sementara produksi minyak berkurang. Sumur-sumur minyak mulai kering.

Pemerintah kini harus memenuhi kebutuhan dasar baru, jalanan yang lebih bagus, fasilitas pendukung, jalan tol, SPBU, tempat-tempat persinggahan dan lainnya.

Pendidikan yang bermutu menjadi tuntutan baru yang lain. Para orangtua terus berjuang agar anak- anak mereka mendapatkan pendidikan yang berkualitas, lebih dari yang mereka dapatkan dulu. Dan terus mencapai gelar setinggi- tingginya karena dana dan waktu tersedia.

Juga infrastruktur komunikasi, di era baru dan era digital ini. Setiap orang memerlukan pulsa dan kuota internet untuk smartphone mereka. Agar terus terhubungkan – connected – baik di dunia nyata maupun dunia maya – sebagai kebutuhan dasar baru. Aktualisasi diri.

Kebutuhan dasar kita kini sudah beralih ke yang lain. Hal itu tak terbayangkan dua puluh atau tiga puluh tahun lalu. Tetapi itulah realita tuntutan kebutuhan dasar era kini, yang wajib direspons oleh pemerintah secara sungguh-sungguh untuk dipenuhi agar menjadi lebih baik. *