Tuesday, 21 August 2018

Mengenal Tradisi ‘Patekoan’, Berbagi Kebaikan dengan Delapan Teko Teh

Selasa, 29 Mei 2018 — 21:59 WIB
Tradisi Patekoan, berbagi teh untuk masyarakat, di salah satu toko di sudut pusat niaga barang elektronik Glodok, Jakarta Barat. (yendhi)

Tradisi Patekoan, berbagi teh untuk masyarakat, di salah satu toko di sudut pusat niaga barang elektronik Glodok, Jakarta Barat. (yendhi)

SIAPA sangka di tengah kerasnya kehidupan di Jakarta masih bisa ditemukan minuman yang dibagikan secara gratis setiap hari. Minuman jenis teh siap saji bisa kita dapatkan secara cuma-cuma di salah satu toko di sudut pusat niaga barang elektronik Glodok, Jakarta Barat.

Beragam cara bisa dilakukan seseorang untuk berbuat baik kepada sesama dengan segala keterbatasannya, baik melalui harta maupun tindakan. Namun, yang dilakukan oleh Restoran Pantjoran Tea House cukup unik. Mereka membagikan delapan teko teh secara gratis setiap hari atau dikenal “Patekoan”.

Teh di sini disajikan dalam delapan teko berisi teh lengkap dengan cangkir atau gelas. Patekoan berasal dari dua kata yakni Pat yang dalam bahasa mandarin adalah delapan dan teko yang berarti wadah untuk minuman.

Bukan tanpa alasan, tradisi Patekoan diterapkan selain ingin berbagi dengan sesama, juga bertujuan untuk meneruskan kebaikan yang pernah ada di kawasan Glodok pada abad ke-16.

Ronald Dani Heriawan, selaku Operasional Manager Pantjoran Tea House bercerita, tradisi Patekoan bermula pada abad ke-16 di mana di kawasan Pecinan, Glodok, Jakarta Barat tinggal seorang Kapiten Gan Djie yang berdarah Tionghoa bersama sang istri yang dikenal dengan Nyai Gan Djie berasal dari Bali.

Kapiten Gan Djie dipercaya oleh Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk memimpin atau meredakan permasalahan yang ada di sekitar Glodok. Pasutri itu sangat disegani oleh penduduk sekitar karena kedermawanannya.

Di depan rumah Gan Djie masyarakat sering beraktivitas, berlalu-lalang untuk mencari nafkah. Mulai dari pedagang hingga kuli panggul. Keadaan masyarakat di bawah kata sejahtera membuat Gan Dji terenyuh dan selalu merenung memikirkan yang bisa dia lakukan untuk membantu.

“Dia bilang ke istrinya apa yang bisa kita berikan, kata sang istri ‘kamu kan Chinese maka kasih lah teh, karena teh manfaatnya banyak bisa untuk menyembuhkan berbagai penyakit’, Disetujuilah menghidangkan teh kepada sesama,” kata Ronald ditemui Poskotanews.com, di Pantjoran Tea House, belum lama ini.

Sedangkan filosofi Cina, angka delapan merupakan angka keberuntungan karena delapan adalah angka yang tidak pernah putus.

“Maka beliau dan Nyai Gan Djie menyiapkan delapan teko teh setiap hari di rumahnya tanpa putus. Penduduk sering minum dan istirahat di situ hingga rumah tersebut dikenal dengan Patekoan yang menyediakan delapan teko hingga disebut Jalan Patekoan,” ungkap dia. Namun, pada masa orde baru Jalan Patekoan diganti menjadi Jalan Perniagaan.

Sedangkan gedung Pantjoran Tea House yang berada di Jalan Pancoran Nomor 6 ini sebelumnya adalah gedung yang difungsikan sebagai Apotek Chunghwa pada 1928. Gedung cagar budaya tersebut kemudian direvitalisasi dengan arsitek konservasi sekaligus Ketua Ikatan Arsitek Indonesia, Ahmad Djuhara.

Setelah direvitalisasi selama 16 bulan sejak September 2014 kemudian diresmikan pada 15 Desember 2015 oleh Lin Che Wei dahulu adalah CEO Jakarta Old Town Revitalization Corp (JOTRC). Gedung kemudian difungsikan sebagai rumah teh bernama Pantjoran Tea House yang dibuka pada 15 Mei 2016.

“Kami dari Pantjoran Tea House mempunyai visi mengembalikan solidaritas antar sesama yaitu membagikan delapan teko teh setiap hari tidak pernah putus dari jam 7 pagi sampai 7 malam. Siapapun bisa minum teh di sini, siapapun bisa menikmati teh ini dan bukan tehnya yang penting tapi rasa solidaritasnya yang kami tunjukkan,” ungkap Ronald.

Teh dalam delapan teko ini adalah jenis teh lokal tanpa pemanis, sedangkan di antara delapan teko terdapat 16 cangkir yang diletakkan di atas meja. Banyaknya minat warga yang ingin mencoba, dalam sehari bisa dilakukan isi ulang hingga lima kali atau mencapai 40 teko.

“Dulu pernah ada teh manis tapi banyak semut, kami ingin pastikan teh itu sehat dan bersih jadi kami sajikan teh tawar. Gelas langsung kami cuci setelah dipakai, kami pastikan kebersihannya,” ucap Ronald.

Lin Che Wei ingin mengembalikan semangat solidaritas keberagaman yang dulu dilakukan Gan Djie dengan memunculkan lagi tradisi Patekoan. “Kami ingin berbagi kehangatan yang dulu digerakkan oleh Gan Djie,” tandas Ronald. (Yendhi/ys)