Tuesday, 23 October 2018

Antisipasi Kecelakaan Arus Mudik Lebaran

Sabtu, 2 Juni 2018 — 5:53 WIB

MULAI pekan ini arus mudik Lebaran akan berlangsung. Satu hal yang perlu diantisipasi adalah bagaiman arus mudik berjalan lancar, aman dan nyaman. Ini berarti bebas dari kemacetan panjang dan kecelakaan.

Berdasarkan angka kecelakaan arus mudik tahun lalu, yang menurun dibanding tahun sebelumnya, kita pun berharap angka kecelakaan tahin ini makin menurun.

Data menyebutkan jumlah kecelakaan pada masa angkutan Lebaran 2017 sebanyak 2.763 kejadian. Meski menurun dibandingkan dengan tahun 2016 yang tercatat 4.176 kejadian, tapi jumlah kecelakaan yang melibatkan angkutan umum masih cukup besar dan memprihatinkan yaitu 1.243 kejadian atau 45% melibatkan angkutan umum/barang.

Atas dasar data tersebut, maka perhatian terhadap pembangunan keselamatan jalan harus terus ditingkatkan.

Dalam kaitan ini, Kementerian Perhubungan selaku leading sector perwujudan safer vehicle yang menjadi pilar kelima dari lima pilar penanganan keselamatan jalan di Indonesia, perlu lebih mengaktualkan kembali sejumlah aturan pendukung demi keselamatan arus mudik Lebaran.

Terutama terkait dengan kelaikan angkutan umum. Ini meliputi pemeriksaan kendaraan
Kami mengapresiasi langkah yang telah diambil dengam telah Instruksi Menteri Perhubungan No. IM.10/2017 tentang Pemeriksaan Kelaikan Sarana Transportasi.

Melalui instruksi Menteri Perhubungan secara berkelanjutan dilaksanakan inspeksi (ramp check) terhadap bus antarkota antarprovinsi, bus angkutan dalam provinsi, dan angkutan pariwisata untuk memastikan kelaikan kendaraan, kesiapan pengemudi, dan ketertiban administrasi kendaraan.

Kami mendukung tindakan tegas dilakukan jika ada angkutan yang tidak lain jalan.
Sebab,keselamatan merupakan hal yang paling esensial dalam penyelenggaraan transportasi, karena kecelakaan menimbulkan kerugian yang sangat besar, baik yang menyangkut manusia maupun harta bendanya.

Kecelakaan mengakibatkan sejumlah manusia meninggal dunia, mengalami kecacatan atau luka berat, kerugian material, kerusakan prasarana dan fasilitas umum. Menurut data, di Indonesia, rata-rata tiga orang meninggal setiap jam akibat kecelakaan jalan.

Selain kelaikan angkutan umum, tam kalah pentingnya adalah pengemudi angkutan umum. Mengingat, faktor manusia menyumbang 61% penyebab kecelakaan di jalan raya. Sisanya sebanyak 30% faktor prasarana dan lingkungan serta 9% karena faktor kendaraan.
Data mennyebutkan faktor manusia disebabkan karena kelalaian, mengantuk atau kurang terampil menggunakan kendaraan.

Itu pula, pentingnya meningkatkan disiplin melalui edukasi yang diberikan secara terus menerus.

Karena itu, menurut hemat kami, meningkatkan disiplin berlalu lintas menjadi tanggung jawab bersama.

Begitupun pemenuhan persyaratan teknik laik jalan kendaraan tidak semata tanggung jawab pemerintah dalam hal ini unit pelaksana uji berkala kendaraan, juga tanggung jawab pemilik dan pengemudi kendaraan. Mereka juga berkewajiban merawat serta memenuhi persyaratan kelaikan kendaraan.( *)