Thursday, 18 October 2018

MUDIK DI TAHUN POLITIK

Senin, 4 Juni 2018 — 6:10 WIB

Oleh H. Harmoko
TAK ADA kebahagiaan yang melebihi rasa bahagia dari yang bisa dirasakan, dalam merayakan Hari Lebaran, kecuali berkumpul dengan keluarga besar, bersama orang- orang yang terkasih di kampung halaman. Dan itu biasa dicapai dengan mudik.

Kebahagiaan itu dirasakan oleh semua orang, dari semua strata dan kelas sosial. Dari mereka yang bekerja sebagai buruh kasar, pembantu rumah tangga, pegawai, karyawan hingga direksi, bahkan komisaris serta mereka yang sukses dengan usaha dan karirnya sendiri. Semua merasakan yang sama; bahagia menikmati Hari Raya di tengah keluarga.

Karena itu, pemerintah yang ingin menyejahterakan rakyatnya, sejak dulu kala bekerja keras, mengerahkan daya upaya mengatur dan mengawal perjalanan mudik. Sebagian dari aparat pemerintah dikerahkan dan memperlancar – sejak tujuh hari sebelum Lebaran hingga tujuh hari sesudahnya – terus berdinas 24 jam di lapangan, di sepanjang rute yang ditempuh oleh pemudik. Bahkan, semua persiapannya, di semua lini, jauh-jauh hari sebelum hari H tiba.

Seiring dengan kemajuan ekonomi, organisasi dan manajerial yang terus meningkat – dan disempurnakan dari tahun ke tahun – perjalanan mudik Lebaran bagi semua warga kini menjadi lebih baik, lebih nyaman, lebih terorganisir dan teratur.

Pemandangan yang mengenaskan tentang warga yang berjejal di kereta api, di pinggir jalan dan stasiun menunggu bus yang memberangkatkan, kecelakaan fatal di perjalanan, dari tahun ke tahun terus ditekan dan menjadi jauh berkurang. Tiket perjalanan kini sudah bisa dipesan, bahkan tiga bulan sebelum Lebaran tiba. Satu tiket satu tempat duduk, ada sistem boarding diterapkan di stasiun kereta api, sebagaimana yang diberlakukan di bandar udara. Semakin nyaman.

Perusahaan-perusahaan memanjakan karyawannya dengan mencarter bus untuk mudik gratis
sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaannya – Corporate Social Responsibility (CSR)-nya. PT KAI juga menyediakan gerbong gratis untuk sepeda motor, agar kecelakaan sepeda motor dalam perjalanan jauh, yang selalu menduduki angka tertinggi, bisa ditekan.
Betapa pun kita mencapai sukses dari hasil bekerja keras dan ikut berperan dalam memajukan ekonomi, meningkatkan status, dan mencapai kesuksesan diri, hakikat dari kesejahteraan kita sebagai individu – dan warga kita pada umumnya – adalah kepuasan batin ketika berkumpul bersama orang- orang yang kita sayangi.

Di kampung halaman orangtua dan keluarga besar menantikan dengan penuh harap. Dengan bahagia. Kita yang merantau di Ibukota pun menantikan masa-masa itu.

Ada yang mencoba mengalkulasi perayaan Lebaran semata-mata dari sudut ekonomi. Betapa boros, betapa banyak dana yang dihamburkan, betapa besar anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk melayani warganya, dan betapa tidak ekonomisnya bila dihitung total uang yang dikeluarkan setiap orang yang mudik dan merayakan Lebaran di kampung halaman.

Tapi hidup bukan semata-mata perhitungan ekonomi. Hidup bukan hanya soal matematika. Bahagia tidak selalu terkait dengan angka. Baik secara pribadi maupun secara bersama-sama sebagai masyarakat.
Di Tahun Politik ini apa peran yang bisa dimainkan oleh para pihak yang sedang berebut suara untuk mendapatkan simpati dari rakyat? Momentum Lebaran! Ya, ini adalah salah satunya. Lebaran adalah momen untuk mengambil hati pemudik, mengambil kesan rakyat umumnya, sebagai lumbung suara, kepada siapa para politisi ingin mendapatkan coblosan kartu suara yang diinginkannya.

Pelayanan yang lebih baik dari pemerintah, atau partai politik yang bisa memanfaatkan momentum dalam memberikan kontribusi, sehingga para memudik melirik, dan mendapatkan kesan mendalam, menjadi bagian yang tak bisa dilewatkan.

Apakah infratruktur memberikan manfaat kepada pemudik, atau mengundang kesan baru yang berbeda, bahkan sebaliknya – karena melaju dengan jalan tol meski lebih cepat dan lebih lancar, namun juga berongkos lebih mahal. Angka-angka yang tercantum dari tarif tol sepanjang jalan dari Ibukota ke ujung pulau Jawa Timur secara keseluruhan cukup lumayan. Signifikan. Namun, manfaat yang diperoleh oleh pemudik juga menjadi lebih efisien.

Atau sebaliknya, keberadaan tol menjadi serba mahal, mendorong ekonomi biaya tinggi, dan kehidupan kita semua menjadi lebih boros? Semua terpulang kepada siapa yang memanfaatkan, dan menganalisisnya, yang dalam bahasa politik masa kini, disebut tergantung kepada siapa “menggoreng”nya. *