Tuesday, 21 August 2018

Menjadi Tamu di Dunia

Selasa, 5 Juni 2018 — 6:00 WIB
ustad ahmad yani 2- ys

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudaraku… Pembaca Poskotanews.com.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Salah satu yang harus betul-betul disadari oleh manusia adalah bahwa kehidupan kita di dunia ini hanyalah sementara, karenanya kehidupan yang sementara ini harus memberi kesan yang baik sehingga Rasulullah saw mengumpamakan kita seperti tamu dan karenanya kita pun harus menjadi seperti tamu dalam hidup ini, beliau bersabda:

Jadilah engkau di dunia sebagai tamu-tamu (HR. Abu Nu’aim).

Yang menjadi pertanyaan kita kemudian adalah bagaimana sikap kita sebagai tamu. Paling tidak ada tiga sikap yang harus kita tunjukkan sebagai tamu.

Pertama, bertamu itu tidak lama-lama, waktunya amat terbatas, karenanya gunakan waktu bertamu seefektif mungkin. Untuk itu, harus jelas tujuan kita bertamu ke rumah seseorang. Hidup sebagai tamu harus kita sadari waktunya yang tidak lama, dan selama-lamanya orang bertamu tetap saja ada saat di mana kita harus meniggalkan rumah yang kita kunjungi itu, sebagus dan senyaman apapun rumah itu. Maka dalam konteks hidup di dunia ini ada saat kita akan meninggalkannya dan kita pun menjadi mayat yang harus dikubur. Kepada Rasulullah saw, Malaikat Jibril as berpesan:

Hiduplah engkau seberapapun lamanya, namun engkau pasti akan mati. (HR. Baihaki)

Kedua, memperhatikan adab-adab dalam bertamu, karenanya dalam hidup yang harus kita jalani ada adab atau akhlak yang harus kita wujudkan dalam kehidupan ini. Untuk membimbing kehidupan manusia, Rasulullah saw diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, beliau menyatakan dalam haditsnya yang terkenal:

Sesungguhnya, aku diutus tidak lain dan tidak bukan, kecuali untuk menyempurnakan akhlak (HR. Baihaki).

Ketiga, nikmati apa yang ditawarkan atau disediakan, karenanya dalam hidup ini kita pun dibolehkan untuk makan dan minum yang memang dibolehkan oleh Allah swt sebagaimana firman-Nya:

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. Al Mulk [67]:15).

Disamping itu, kita pun boleh menikmati apa saja dalam hidup ini ketika hal itu memang dibolehkan termasuk melampiaskan keinginan seksual yang tentu saja didahului dengan akad nikah yang berarti hubungan seksual kepada isteri atau suami, ini merupakan salah satu dari tanda kekuasaan Allah swt sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu bnenar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS. Ar Rum [30]:21).

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Drs. H. Ahmad Yani

* Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah

* Penulis Buku Panduan Ramadhan & Doa Al Ma’tsurat Kubra

* Pengurus Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta

* Wakil Ketua Umum Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PII)

* Ketua Bidang Dakwah Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI)