Tuesday, 23 October 2018

Bersaudaralah dengan Orang Lain, Jauhi Prasangka

Rabu, 6 Juni 2018 — 6:00 WIB
Drs.H.Ahmad-Yani

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudaraku… Pembaca Poskotanews.com.

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Manusia merupakan makhluk sosial yang antara satu dengan lainnya saling membutuhkan, karenanya tidak mungkin kita bisa hidup sendirian dan untuk itu persaudaraan di antara sesama manusia harus diwujudkan dan dikembangkan. Agar persaudaraan bisa terwujud dan berkembang dengan baik, maka harus dijauhi hal-hal yang bisa merusaknya seperti berperasangka buruk, berdusta, mencari-cari kesalahan atau aib, saling mencurigai dan saling menjauhi atau bertolak belakang. Rasulullah saw melarang semua ini dalam satu hadits yang diceritakan oleh sahabat Abu Hurairah ra:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Jauhilah prasangka sebab prasangka adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian mencari-cari kesalahan, janganlah kalian saling memata-matai, janganlah kalian saling marah, janganlah kalian saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara (Bukhari).

Untuk menilai diri kita sudah bersaudara atau belum kepada orang lain, paling tidak ada dua tolak ukurnya. Pertama adalah bersihnya hati kita kepada orang lain sehingga tidak ada kekotoran hati kita dalam menyikapi orang lain sehingga kita tidak dengki atau iri hati kepada kemajuan yang mereka capai, bahkan kita turut gembira atas kemajuan yang telah diraihnya itu, ini merupakan ukuran yang paling rendah. Kedua dan ini merupakan ukuran yang paling ideal dari persaudaraan adalah mengutamakan orang lain. Hal ini menjadi ukuran ideal karena biasanya dalam hidup ini manusia lebih mengutamakan dirinya sendiri, bahkan banyak di antara manusia yang tidak peduli terhadap orang lain, Allah swt berfirman:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al Hasyr [59]:9).

Ketiga sikap yang harus kita upayakan dalam hidup ini adalah menjadi Rabbaniyyun. Allah swt merupakan Rabbul ‘alamin (Tuhan semesta alam), disebut juga dengan Rabbun nas (Tuhan manusia) dan banyak lagi sebutan lainnya. Kalau karakteristik Islam itu adalah Robbaniyyah, itu artinya Islam merupakan agama yang bersumber dari Allah swt, bukan dari manusia, sedangkan Nabi Muhammad saw tidak membuat agama ini, tapi beliau hanya menyampaikannya. Karenanya, dalam kapasitasnya sebagai Nabi, beliau berbicara berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya, Allah swt berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى

Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya, ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (QS. An Najm [53]:3-4).

Disamping itu, seorang muslim tentu saja harus mengakui Allah swt sebagai Rabb (Tuhan) dengan segala konsekuensinya, yakni mengabdi hanya kepada-Nya sehingga dia menjadi seorang yang rabbani dalam arti memiliki sikap dan prilaku dari nilai-nilai yang datang dari Allah swt, Allah berfirman:

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

Tidak wajar bagi manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah”, tapi dia berkata: “hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan kamu tetap mempelajarinya (QS. Ali Imran [3]:79).

Dengan demikian menjadi rabbaniyun adalah menjadi pribadi dengan nilai-nilai yang datang dari Allah swt, karenanya nilai-nilai yang tertuang di dalam Al-Qur’an dan Hadits harus dipahaminya, dalam hadits yang dijelaskan Sa’id bin Jubair ra:

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ الْفَزَارِيِّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ { كُونُوا رَبَّانِيِّينَ } قَالَ عُلَمَاءُ فُقَهَاءُ

Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin ‘Uyainah] dari [Abu Ishaq Al Fazari] dari [Atha’ bin As Sa’ib] dari [Sa’id bin Jubair] ia berkata: “Jadilah kalian semua Rabbaniyyun” dia berkata: maksudnya adalah ulama yang ahli fiqih”. (HR. Ad Darimi).

Ini berarti generasi Rabbani adalah generasi yang memahami ajaran Islam dan menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Dengan memahami dan melaksanakan bagaimana menyikapi hidup membuat kita akan menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Demikian pesan-pesan Ramadhan kita pada kesempatan ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, aamin ya rabbal alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Drs. H. Ahmad Yani

* Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah

* Penulis Buku Panduan Ramadhan & Doa Al Ma’tsurat Kubra

* Pengurus Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta

* Wakil Ketua Umum Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PII)

* Ketua Bidang Dakwah Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI)