Wednesday, 17 October 2018

KENIKMATAN SPIRITUAL WARGA DESA

Kamis, 7 Juni 2018 — 6:14 WIB

Oleh H.Harmoko

MUDIK tidak lagi hanya bisa disebut sebagai tradisi, tetapi sudah seperti menjadi ritual wajib bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Suasana mudik mencairkan ketegangan di tahun politik ini, bahkan melupakan meskipun mungkin sesaat. Ada muatan ekonomi, kerinduan keluarga dan kampung halaman, juga spiritual.

Banyak yang mengakui mudik mempunyai perspektif ekonomi yang sangat positif bagi kehidupan masyarakat desa. Mudik menciptakan kegiatan ekonomi ekstra di berbagai sektor yang di desa menjadi bergerak. Ada sektor transportasi, perdagangan, pariwisata dan produksi.

Peningkatan aktivitas ekonomi merata hingga pelosok desa. Tak hanya di pinggir jalan utama yang dilewati pemudik, tetapi hingga ke pelosok dusun. Jangan ditanya panen mini market yang ada di sepanjang jalan kota, yang tak pernah redup. Rest area sepanjang pantura dan tempat wisata di manapun berada, antre kendaraan masuk bergantian.

Melalui mudik ada aliran deras uang dari kota ke desa yang dibawa pemudik. Perekonomian desa yang statis menjadi dinamis sampai pelosok dusun menjadi hidup. Perputaran dan kebutuhan uang melonjak bersamaan dengan bergeraknya roda ekonomi.

Dari catatan BI ada kebutuhan uang yang melonjak berlipat-lipat. Untuk kebutuhan uang tunai (outflow) di tahun 2018, disebutkan meningkat 15,3 persen atau Rp188,2 triliun secara nasional, dibanding periode 2017 sebesar Rp163,2 triliun. Dahsyatnya, 61,2 persen dari Rp188,2 triliun uang yang berputar atau Rp115,5 triliun ada di Pulau Jawa, non Jabodetabek.

Tentu saja, ini bukan berarti yang merasakan mudik hanya di Pulau Jawa, tetapi hampir seluruh wilayah tanah air. Lagi pula tradisi mudik sebenarnya juga bukan hanya terjadi di Indonesia. Juga ada di negara lain seperti Brunai dan Malaysia.

Mungkin orang-orang desa mendapat imbas positif dari perputaran uang yang sangat besar itu. Tapi siapa sebenarnya yang menjadi penikmat perputaran uang besar itu. Masyarakat desa mungkin lebih besar syukurnya daripada apa yang didapatnya saat musim mudik ini. Penikmat terbesar dari semua ini sesungguhnya adalah pada pemodal-pemodal besar. Mereka yang tercatat sebagai orang kaya di negeri ini. Mungkin mereka adalah penikmat keuntungan terbesar dari pesta hari raya ini.

Perputaran uang yang didapat rakyat kebanyakan sesungguhnya habis tidak tersisa. Habis untuk membayar segala pernak-pernik yang sekarang dipajaki pemerintah, membeli BBM non subsidi karena BBM subsidinya yang penjualannya dibatasi pemerintah, membeli gas non subsidi karena gas melon tak ada di pasar dan entah apalagi yang harus mereka tutupi.

Hukum alam memang begitu, yang modalnya besar dapatnya besar, yang modalnya kecil dapatnya kecil atau bahkan harus bangkrut kehabisan modal. Bagi orang-orang desa, yang tersisa hanya kenikmatan spriritual dari berkumpulnya anak cucunya. Dan itulah yang diimpikan setiap tahunnya. Dari cita rasa spiritual, rasanya mudik bisa dimaknai bahwa kelak mereka dan kita semua pun akan pulang kepada sang Khaliq. Mudik mengingatkan kita semua tentang adanya masa pulang ketika waktu tiba.*