Tuesday, 23 October 2018

Antisipasi Pencurian dan Kebakaran

Jumat, 8 Juni 2018 — 4:48 WIB

MUDIK Lebaran sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia. Pergerakan penduduk secara besar-besaran, serta lengangnya kota yang ditinggalkan, dipastikan berdampak munculnya problema bila tidak dikelola secara baik.

Ancaman gangguan kamtibmas, bukan hanya mengintai pemudik, melainkan juga warga yang ditinggal mudik.
Karena ibarat eksodus, jumlah warga yang berangkat mencapai jutaan jiwa sehingga akan membuat suatu wilayah mendadak lengang. Arus mudik diperkirakan mulai ramai sejak Sabtu (9/6/2018).

Kementerian Perhubungan memprediksi, jumlah total pemudik Lebaran 2018 mencapai 22 juta hingga 25 juta jiwa di seluruh Indonesia. Jumlah terbesar pemudik adalah dari wilayah Jabodetabek. Dari total penduduk Jakarta sekitar 9 juta jiwa, hampir 50 persen di antaranya atau sekitar 4,5 juta diperkirakan bakal keluar kota.

Jutaan warga muslim pulang kampung, sedangkan non muslim memanfaatkan cuti lima hari berlibur ke luar kota.

Bisa dibayangkan, Ibukota dipastikan mendadak lengang, dan banyak rumah yang kosong ditinggal pergi. Kondisi ini berpotensi muncul gangguan keamanan, mulai dari pencurian hingga kebakaran.

Pada musim mudik tahun-tahun sebelumnya, jenis gangguan yang selalu terjadi adalah pencurian di rumah di rumah kosong (rumsong) yang ditinggal penghuni, serta kebakaran. Dua jenis gangguan kamtibmas ini yang harus diantisipasi.

Pencurian terjadi karena pelaku kejahatan melihat celah sepinya permukiman, serta longgarnya pengamanan. Sedangkan kebarakan terjadi bila karena kecerobohan pemilik rumah tidak memutus aliran listri pada barang elektronik saat akan meninggalkan rumah.

Karena itu, semua pihak harus saling sinergi baik warga yang mau mudik, perangkat RT/RW serta aparat keamanan. Warga yang akan meninggalkan rumah wajib memastikan keamanan rumah dari potensi kebakaran. Cabut sambungan listrik yang tersambung ke barang elektronik, dan cabut slang gas pada kompor.

Ancaman lainnya, pelaku kriminal dipastikan mengincar permukiman. Beragam modus dilakukan antara lain pura-pura jadi pemulung, berlagak mencari alamat dan modus-modus lainnya. Koordinasi antara warga, aparat RT/RW serta kepolisian sangat penting dalam mengawasi titik-titik rawan.

Dalam situasi seperti ini toleransi antar-warga maupun sesama umat beragama diperlukan. Saling menjaga permukiman di saat tetangga pulang kampung melalui kegiatan siskamling. Kota Jakarta milik bersama, maka memelihara keamanan dan kenyamanan juga tanggungjawab bersama. **