Tuesday, 21 August 2018

Mengapa Sandi Merahasiakan Nama 40 Mesjid Paham Radikal?

Jumat, 8 Juni 2018 — 6:16 WIB
radikal

DI tengah isyu paham radikal menyusup ke kampus-kampus, Wagub DKI Sandiaga Uno bilang bahwa di Jakarta ada 40 mesjid berpaham radikal. Apa nama mesjid itu Wagub tak mau mengumbar data dari Biro Pendidikan, Mental, dan Spiritual (Dikmental) itu. MUI menyayangkan, sebab tanpa disebutkan justru timbulkan keresahan.

Dibubarkannya HTI oleh pemerintah pada Juli 2017, bukan berarti paham radikal itu sirna bersama matinya lembaga. Yusril Ihza Mahendra selaku pengacaranya pernah bilang, meski HTI-nya telah bubar tapi pemerintah tak bisa menyetop kegiatan dakwah anggotanya secara individu. “Jika ada yang mencoba mengintimidasi, itu sudah pelanggaran hukum,” kata Yusril.

HTI bubar, kini merebak isyu paham radikal telah menyusup ke kampus-kampus. Data BIN (Badan Intelejen Negara) dan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) menyebutkan, dari 20 perguruan tinggi negeri di 15 provinsi, terdapat 39 % mahasiswanya punya kecenderungan anti Pancasila dan demokrasi. Tambah mengerikan, 23 % dari mereka setuju Indonesia berubah bentuk menjadi negara Islam.

Di Jakarta, paham radikal itu telah mencemari 40 mesjid. Ini setidaknya menurut Wagub Sandiaga Uno, berdasarkan laporan Biro Dikmintal. Ciri mesjid berpaham radikal itu katanya, mubaligh dalam ceramahnya menyebarkan paham kebencian, ujarannya yang memecah belah, menimbulkan kebencian. Tapi sayangnya, apa nama mesjid itu Wagub pantang mengumbarnya.
Cholil Nafis dari Komisi Dakwah MUI menyayangkan sikap Pemprov DKI, kenapa tidak mau buka nama mesjid itu? Jika tak mau sebut nama mesjidnya, mending tidak usah ngomong. Seban hal ini justru akan menimbulkan keresahan masyarakat.

Saat Pilkada DKI politik identitas memang sangat tajam, paham radikal menyebar di sejumlah mesjid. Ironisnya, Pilkada sudah selesai setahun lalu, tapi kenapa warisannya belum juga sirna. Dikhawatirkan ini memang dipelihara sampai dan demi target Pilpres 2019. – gunarso ts