Tuesday, 21 August 2018

Usianya Belum Kepala Empat Sudah jadi Janda Empat Kali

Sabtu, 9 Juni 2018 — 6:50 WIB
cerai

APES betul nasib Ny. Saptinah, 36, dari Surabaya ini. Usia belum kepala empat, tapi sudah menjanda sampai empat kali. Ternyata wajah cantik tak menjamin kebahagian. Sebab para lelaki yang sempat jadi suaminya itu biang kerok semuanya, ada pengangguran, politisi, sampai pengedar narkotika. Capek deh….

Kecantikan itu karunia Illahi, tak semua mendapatkannya. Tapi yang dapat pun bukan jaminan itu akan menjadikan kebahagiaan. Banyak yang karena kecantikannya malah jadi sengsara. Lebih-lebih jika ketemu lelaki petualang dan pembosan, sebab baginya menikah itu sekedar rekreasi. Bila sudah jenuh bisa dicampakkan untuk ganti yang baru dan masih maknyusss.

Nasib Ny. Saptinah warga Patemon, termasuk wanita cantik yang sial. Kali pertama menikah dijodohkan orangtuanya. Belum kenal luar dalam, sudah dipaksa nikah oleh orangtuanya. Kata enyak babe, calon suaminya itu anak pengusaha sukses. “Pokoknya kamu jadi istrinya disuruh mamah karo mlumah,” kata orangtua.

Jadilah dia menikah dengan Arief Uyuhono, 25, saat umur Saptinah baru 20 tahun. Ternyata suaminya itu tak punya pekerjaan jelas, dia sekedar membantu bisnis orangtuanya, tapi hanya dijadikan pelengkap penderita. Sudah begitu Arif Uyuhono itu punya bakat petinju.Baru seminggu Saptinah sudah seperti sansak saja, sering dipukuli.

Langsung dia bercerai. Karena kecantikannya, Saptinah segera dapat gebedan baru, berdasarkan rujukan kakaknya. Tapi baru menikah dua tahun dengan anak satu, si Fadli sudah kabur dengan kekasih barunya. Lagi-lagi Saptinah minta cerai, karena suamnya ternyata lelaki mata keranjang.

Dengan dua kali perkawinan gagal, Saptinah menjadi trauma untuk menikah. Dia mau hidup menyendiri saja. Tapi Tuhan masih mengirimkan untuknya suami pengganti. Tapi baru beberapa tahun menikah, baru ketahuan bahwa Fahri ini ternyata pengedar narkoba. Tahunya setelah ada polisi datang dan menangkap Fahri. Langsung Saptinah menggugat cerai.

Dengan suaminnya yang sekarang, Alisarap, 40, sebetulnya juga karena terpedaya saja. Suaminya ini politisi partai gurem, belum masuk ke DPRD, apalagi DPR pusat. Tapi sibuknya bukan main, jarang di rumah, anak istri nyaris tak keurus. Awalnya Saptinah menolak diajak koalisi, karena sudah benar-benar trauma dengan garis nasibnya. “Sudahlah, saya cukup mau momong badan sendiri saja.” Kata Saptinah.

Tapi Alisarap memang politisi ulung, jago melobi. Dia mampu meyakinkan Saptinah bahwa dengan koalisi cinta ini, rumahtangga yang dibangunnya akan berjalan bahagia. Luluhlah Saptinah dan menikahlah dengan politisi tanggung belum kelas Senayan ini.

Tapi namanya juga politisi, Alisarap kalau ngomong suka nggak konsisten, suka ingkar janji. Esuk dele sore tempe. Pada mertua sendiri ya bapak Saptinah, dia berani mengeritik seenaknya. Masak bapak mertua dibilang pekok, padahal dia tiap malam ngeloni anak si pekok. Apakah Alisarap sendiri bukan ikut pekok?

Sebagai anak, tentu saja Saptinah tersinggung. Dia langsung mengancam cerai. Tiba-tiba Alisarap ampun-ampun minta maaf. Tapi lain hari sudah kembali mengecam bapak Saptinah. “Bapakmu itu sebentar lagi dilengserkan Allah, karena segala tindakannya blunder dan salah,” begitu katanya. Tentu saja Saptinah tersinggung, wong hanya jadi RW ini, dilengserkan seminggu 3 kali juga nggak apa.

Tapi Saptinah sudah muak dengan segala kenyinyiran Alisarap yang seperti orang sarap itu. Meski kembali suami minta maaf, sudah tak peduli lagi. Langsung saja dia menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya, meski usia perkawinanya sudah 8 tahun dan ada anak tambahan pula.

Bikin tagar Mbak, #tahun 2018 segera ganti suami. (JPNN/Gunarso TS)