Tuesday, 21 August 2018

Timbangan Amal yang Berat

Minggu, 10 Juni 2018 — 6:00 WIB
Ustad Ahmad Yani

Ustad Ahmad Yani

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudaraku… Pembaca Poskotanews.com.

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Salah satu rangkaian hari kiamat yang sudah sama-sama kita pahami adalah apa yang disebut dengan yaumul hisab (hari penghitungan) dan yaumul mizan (hari penimbangan) amal manusia. Dengan demikian, bila ada vonis Allah swt terhadap manusia yang tidak menyenangkan mereka, maka mereka pun tidak bisa menunjukkan keberatan apalagi tidak mau menerima karena amal sudah dihitung tapi ditimbang juga. Bila amal kebaikan yang lebih berat dalam timbangan akhirat, hal itu merupakan suatu keberuntungan sehingga amat menyenangkan bagi manusia karena pertanda akan dimasukkan ke dalam surga, Allah swt berfirman: Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas. (QS Al Qari’ah [101]:6-11).

Adapun bila timbangan kebaikan jauh lebih ringan dari keburukan, maka hal itu merupakan kerugiaan besar yang berkepanjangan, karena ia akan menjadi penghuni neraka, Allah swt berfirman: Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam (QS Al Mukminun [23]:102-103)

Agar timbangan amal kebaikan kita berat, maka ada hal-hal yang harus kita miliki dan kita lakukan dalam hidup ini.

  1. Akhlak Yang Mulia.

Nabi kita Muhammad saw diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Karenanya setiap kita harus terus menyempurnakan akhlak kita masing-masing baik dalam hubungan kita kepada Allah swt maupun kepada makhluk-makhluknya, yakni manusia, binatang dan lingkungan hidup. Sifat-sifat terpuji seperti jujur, sabar, syukur dan sebagainya juga harus kita miliki dalam menjalani kehidupan sehari-hari.  Manakala akhlak mulia telah kita miliki dalam hidup ini, maka timbangan amal shaleh kita menjadi sangat berat, Rasulullah saw:

أَثْقَلُ مَا يُوْضَعُ فِى الْمِيْزَانِ الْخُلُقُ الْحَسَنُ

Yang paling berat di atas neraca amal (pada hari kiamat) adalah akhlak yang baik (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Oleh karena itu, hal yang harus kita waspadai adalah begitu banyak orang yang berusaha untuk merusak akhlak dengan berbagai cara, baik melalui radio, televisi, film, koran, majalah, internet hingga dunia hiburan, bahkan olah raga. Namun, bagi orang yang berorientasi pada kebahagiaan hidup di akhirat tidak akan tergoda oleh semua itu. Istiqamah memegang prinsip akhlak Islam selalu diperjuangkannya.

Agar kita memiliki akhlak yang mulia, maka faktor pertama yang harus mendapatkan perhatian kita adalah memantapkan iman, tauhid atau aqidah kepada Allah swt, karenanya meskipun misi utama dakwah Rasul adalah memperbaiki akhlak manusia, tapi yang pertama beliau ajarkan adalah soal iman, aqidah atau tauhid, Rasulullah saw bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Mukmin yang sempurna imannya, niscaya bagus akhlaknya (HR. Bukhari dan Muslim).

Kendala memiliki akhlak yang mulia tentu saja ada, karenanya upaya mengingatkan dan mencegah kemunkaran menjadi suatu keharusan, Rasulullah saw bersabda:

Mengefektifkan kontrol terhadap sesama anggota masyarakat agar akhlak tercela tidak sempat berkembang di tengah-tengah masyarakat Karena itu segala bentuk kemunkaran harus dicegah dengan segala kemampuan yang dimilikinya, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ رَاَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذاَلِكَ اَضْعَفُ اْلاِيْمَانِ.

Barangsiapa melihat kemunkaran, hendaklah ia mencegah dengan tangan (kekuasaan) nya, bila tidak mampu, hendaklah ia mencegah dengan lisannya dan bila tidak mampu juga hendaklah ia mencegah dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemah iman (HR. Muslim).

  1. Dzikir

Secara harfiyah, dzikir artinya mengingat, menyebut, menuturkan, menjaga, mengerti dan perbuatan baik. Orang yang berdzikir kepada Allah swt berarti orang yang ingat kepada Allah swt yang membuatnya tidak akan menyimpang dari ketentuan-ketentuan-Nya. Ini berarti dzikir itu bukan sekadar menyebut nama Allah, tapi juga menghadirkannya ke dalam jiwa sehingga selalu bersama-Nya yang membuat kita menjadi terikat kepada ketentuan-ketentuan-Nya.

Bagi seorang muslim, berdzikir merupakan hal yang amat penting, karenanya satu-satunya perintah Allah swt yang menggunakan kata katsira (banyak) adalah perintah dzikir kepada-Nya sebagaimana firman Allah swt: Hai orang yang beriman, berdzikirlah kamu kepada Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya (QS Al Ahzab [33]:41).

Di antara bentuk dzikir dengan lisan adalah mengucapkan kalimat tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan sebagainya, merupakan sesuatu yang diperintah Allah swt dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Karena itu menjadi penting bagi kita untuk melakukannya selain dzikir dengan hati dan amal. Manakala kita telah berdzikir kepada Allah swt, maka hal itu akan membuat kita mendapatkan nilai sedekah, ini merupakan sedekah yang bisa dilakukan oleh siapa saja, baik oleh orang kaya maupun orang miskin, sehingga yang kaya tidak merasa cukup sedekah hanya dengan harta, sedangkan yang miskin tidak berkecil hati akan kemungkinan mendapatkan nilai sedekah dari apa yang bisa dilakukannya, Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ, فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ, وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ,  وَكُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ, وَكُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ, وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ, وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ, وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

Pada tiap pagi ada kewajiban untuk tiap-tiap persendian bersedekah. Dan tiap tasbih itu sedekah, tiap tahlil itu sedekah, tiap tahmid itu sedekah, tiap takbir itu sedekah, menganjurkan kebaikan itu sedekah dan mencegah kemunkaran itu sedekah dan cukup mengggantikan semua itu dengan dua rekaat sunat dhuha (HR. Muslim).

  1. Mengurus Jenazah

Mengurus jenazah dilakukan dalam bentuk memandikan dan mengkafani, namun tidak semua orang bisa terlibat di dalamnya. Yang bisa kita ikuti secara bersama-sama adalah menshalatkan dan menguburkan. Manakala kita mengikuti shalat jenazah, apalagi sampai ikut menguburkannya meskipun hanya ikut ke kuburan tanpa menggotong keranda dan masuk ke lubang kubur, maka pahala yang sangat besar akan diberikan oleh Allah swt kepada kita yang bila digambarkan besarnya pahala itu, maka besarnya adalah sebesar bukti uhud, Rasulullah saw bersabda:

مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيْمَانًاوَاحْتِسَابًاكَانَ  مَعَهَا حَتَّى يُصَلَّىعَلَيْهَا وَيُفْرَغَ مِنْ دَفْنِهَا فَاِنَّهُ يَرْجِعُ ِمنَ اْلأَجْرِ بِقِيْرَاطَيْنِ كُلُّ قِيْرَاطٍ  مِثْلُ أُحُدٍ، وَمَنْ صَلَّىعَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ فَاِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيْرَاطٍ

Barangsiapa menghantar jenazah seorang muslim karena iman dan mengharapkan pahala dan terus mengikutinya hingga dishalatkan dan selesai menguburkannya, maka ia akan kembali membawa pahala dua qirath, tiap satu qirath sebesar bukti uhud. Dan siapa yang menshalatkannya kemudian kembali sebelum dikuburkan, maka ia kembali hanya membawa satu qirath (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra).

Dari hadits di atas, terkesan bagi kita bahwa bila pahala digambarkan seperti gunung uhud yang merupakan gunung bebatuan, maka bila ditimbang tentu akan sangat berat, padahal yang kita lakukan sangat ringan. Shalat jenazah adalah shalat yang paling ringan karena tanpa ruku dan sujud, hanya empat takbir, ikut ke kuburan juga ringan hanya berjalan kaki atau berkendaraan, tapi nilai pahalanya besar dan berat.

Dengan demikian, kita manfaatkan kesempatan hidup ini untuk beramal shaleh yang sebanyak-banyaknya dengan nilai pahala yang besar dari Allah swt.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Drs. H. Ahmad Yani

* Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah

* Penulis Buku Panduan Ramadhan & Doa Al Ma’tsurat Kubra

* Pengurus Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta

* Wakil Ketua Umum Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PII)

* Ketua Bidang Dakwah Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI)