Tuesday, 23 October 2018

ASN dan Guru Kurang Kerjaan Terbanyak Sebar Berita Hoax

Senin, 11 Juni 2018 — 6:59 WIB
hos

DOSEN guru dan ASN (Aparatur Sipil Negara), adalah kelompok orang yang cerdas, tentunya. Orang yang cerdas pastilah mampu memilah dan kritis terhadap berita-berita yang diterima lewat medsos, bukan koran. Yang terjadi mereka ini justru gampang terpancing, kemudian seperti kurang kerjaan, menyebarkan berita-berita hoax itu.

Pasca terjadinya bom Surabaya, Kementerian Kominfo mencatat, sepanjang tanggal 13-17 Mei saja telah masuk 17.000 konten berbau SARA. Mereka terpancing untuk berkomentar mengarah ujaran kebencian, menyalahkan pemerintah dan membela gerakan radikal. Serta merta Kemenkominfo memblokir sedikitnya 2.500 konten radikal.

Dari mereka ini rupanya banyak di antaranya ASN, dosen dan guru yang terbawa arus, sehingga banyak pengaduan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN). PNS dan guru jan abdi negara, kenapa malah menyerang pemerintahnya sendiri. Mereka bekerja dan makan gaji dari negara, tapi kenapa malah menyinyiri negara sendiri?

Perwakilan media sosial besar seperti, Facebook, Twitter, dan Youtube pernah menyebut bahwa isu ujaran kebencian, propaganda, dan berita bohong sangat kompleks. Mereka menyebut bahwa untuk masalah ini tak memiliki jawaban yang mudah. Yang bisa dilakukan, Twitter misalnya tiap minggunya menyelidiki 6,4 juta akun. Hal ini dilakukan untuk mencegah menyebarnya infomasi yang salah dan aktor-aktor di baliknya.

Seperti pernah ramai diberitakan, Kepala Sekolah SMP di Kalimantan Barat, dosen di USU Sumut, ditahan pihak yang berwajib gara-gara berkomentar miring di medsos soal bom Surabaya. Melihat cara berpakaian mereka, mestinya kalau tak bisa tabayun ya harus kritislah, ditimbang-timbang untung ruginya. Jangan sampai pikir dulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.

Sejak HP semakin canggih, orang bermain internet tak harus lewat komputer pribadi atau warnet. Lewat aplikasi di HP smartpone, sambil duduk dalam mobil, atau di KA dan buskota, orang bisa berselancar sepuas-puasnya di jagad maya. Sayangnya, ASN, dosen dan guru yang terlibat permainan beginian, jadi larut dan kemudian seperti kurang kerjaan berkomentar yang aneh-aneh.

Mereka yang seharusnya kritis mendadak hilang daya nalarnya, sehingga berita hoax di medsos ikut pula disebarkannya. Padahal yang repot akhirnya diri sendiri. Apa tidak konyol namanya, karena kurang kerjaan saat di kantor, biu dan KA, jadi iseng dan akhirnya ikut puyeng sendiri. – gunarso ts