Wednesday, 17 October 2018

NILAI-NILAI PANCASILA

Senin, 11 Juni 2018 — 6:38 WIB

Oleh H.Harmoko
MENDENGAR kabar semakin banyaknya kalangan intelektual terpapar paham radikalisme dan antiPancasila, tentu memprihatinkan. Terlebih lagi, jika di antara mereka yang terpapar itu dari kalangan pendidik, dosen, dari dunia kampus, dan yang selama ini dikenal kritis. Ini menunjukkan ajaran nilai-nilai Pancasila perlu dikobarkan lagi.

Sejak era reformasi, gelombang dahsyat kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat memang mengemuka. Nilai-nilai Pancasila yang sempat ditafsir sepihak oleh penguasa masa lalu dan golongan tertentu menimbulkan alergi bagi generasi muda yang kritis. Juga di kalangan intelektual. Sebagian dari mereka menyampaikan sikap skeptis dan melakukan perlawanan.

Kadang perlawanan itu berlanjut dengan penolakan melalui tafsir yang bertolak belakang. Bahkan, disusupi ajaran-ajaran asing, yang selama ini sudah ditolak, digugurkan.

Pancasila menolak kebebasan tanpa batas, liberalisme. Tidak memberi ruang serba boleh, termasuk menghina pemimpin, menghina saudara sebangsa yang beda keyakinan. Menghina yang beda ras. Apalagi sampai anarki dan persekusi. Pancasila tidak membenarkan itu.

Tapi Pancasila juga menolak pengekangan, kontrol berlebihan. Karena nilai-nilai Pancasila menjunjung tinggi kebinekaan, dan kesetaraan, dimana tak dikenal mayoritas dan minoritas, melainkan sesama anak bangsa yang punya hak dasar yang sama.

Bapak Pendiri Bangsa, Ir Soekarno, menegaskan Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan juga milik suatu agama, milik suku tertentu, dan bukan pula milik suatu golongan adat istiadat. Tapi, milik bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pancasila adalah ideologi dan falsafah negara sebagai pemersatunya.

Sejarah Nusantara sebagai suku- suku bangsa, selama beratus-ratus tahun memperlihatkan masyarakat mempunyai kearifan saling menghargai perbedaan.

Sungguh aneh, jika setelah menjadi negara kesatuan, ruang publik diisi dengan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), kebencian, serta permusuhan. Di era digital ini, menjalar di dunia maya. Lebih aneh lagi, sekiranya pelakunya kalangan terdidik.

Kini kita memerlukan ketegasan pemimpin yang dengan kewibawaannya merawat kebinekaan. Aksi kekerasan terhadap kekerasan kemanusiaan, ujaran kebencian di dunia maya, ancaman kebebasan beribadah, merupakan masalah yang serius.

Negara mempunyai kekuatan memaksa dalam mengatasi atau mencegah kekerasan. Negara tidak boleh lemah dalam menjalankan fungsinya.

Sebab, jika keberagaman terancam, kesantunan dalam berbangsa ini hilang, maka akan hilang juga masa depan bangsa.

Indonesia ibarat sebuah kapal besar yang sedang berlayar menunju abad 22, dengan penumpang 250 juta warga Bhineka Tunggal Ika. Dalam sebuah kapal, kita tak membiarkan adanya penumpang yang melakukan tindakan membahayakan penumpang lain, membahayakan nakhkoda, dan membahayakan kapal itu sendiri. Seluruh penumpang wajib taat aturan demi keselamatan bersama.

Sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia, seyogianya Pancasila terus dirawat dan dikobarkan, sebagai pemandu segenap masyarakat yang mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai pandangan hidup, Pancasila menciptakan kerukunan antarmasyarakat, menghargai satu dengan yang lain, memperkokoh gotong royong dan memperkuat sistem demokrasi bangsa.

Mereka yang meragukan Pancasila sebagai pemersatu harus merasakan perjalanan dari Sabang sampai Merauke, dari Aceh hingga Papua – untuk menghayati begitu nyata perbedaan antara Indonesia Barat dan Timur – tapi kita telah dipersatukan sebagai satu bangsa oleh ikatan Pancasila, oleh Merah Putih, oleh Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Kita harus mengembalikan Pancasila menjadi acuan berperilaku, untuk menghadapi tantangan ke depan. Di kampus-kampus, di lembaga pendidikan sekolah dasar dan menengah dan juga di dunia maya, kita harus mengaktualisasikan nilai–nilai Pancasila dalam praksis, dengan konten yang berisi nilai positif spirit berkemajuan.

Mari kita sama-sama, semua elemen bangsa bersatu padu mengobarkan nilai Pancasila, bukan provokasi yang menghancurkan nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan, menghancurkan Pancasila itu sendiri. *