Thursday, 16 August 2018

Ditinggal Mudik, Kualitas Udara Jakarta Meningkat

Rabu, 13 Juni 2018 — 15:27 WIB
kualitas udara Ibukota meningkat, CO (karbon monoksida atau gas tidak berwarna) mengalami penurunan sebesar 66.91 persen dan penurunan konsentrasi NO2 (Nitrogen Oksida) sebesar 70.81 persen. (dok/embun)

kualitas udara Ibukota meningkat, CO (karbon monoksida atau gas tidak berwarna) mengalami penurunan sebesar 66.91 persen dan penurunan konsentrasi NO2 (Nitrogen Oksida) sebesar 70.81 persen. (dok/embun)

JAKARTA –  Pergerakan penduduk dari Jakarta ke beberapa daerah atau mudik tidak hanya mengatasi masalah kemacetan yang menjadi momok di Ibukota. Namun, tradisi tahunan ini juga membuat udara di Jakarta lebih segar.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DHL) DKI Jakarta, Isnawa Adji mengatakan, dengan kegiatan mudik maka mengurai volume kendaraan di Jakarta dan secara otomatis asap kendaraan berkurang sehingga tidak menghasilkan polusi udara.

“Asap kendaraan bermotor merupakan penyumbang terbesar pencemaran udara di Jakarta,” kata Isnawa dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/6/2018).

Berdasarkan pantauan, DLH mencatat kualitas udara di Stasiun DKI 1 Bundaran Hotel Indonesia terjadi penurunan konsentrasi SO2 (Sulfur Dioksida) sebesar 27.36 persen, konsentrasi CO (karbon monoksida atau gas tidak berwarna) mengalami penurunan sebesar 66.91 persen dan penurunan konsentrasi NO2 (Nitrogen Oksida) sebesar 70.81 persen.

Namun, untuk parameter PM 10 (Partikulat) terjadi sedikit peningkatan konsentrasi sebesar 9.34 persen, hal ini disebabkan adanya debu yang dihasilkan dari proyek pembangunan MRT (Mass Rapid Transit).

Di Stasiun DKI 4 Lubang Buaya juga tercatat mengalami penurunan pencemaran udara meski tidak sebesar di DKI 1. Menurut Isnawa, hal itu lantaran jalan tol Cikampek dan Jagorawi masih banyak kendaraan pemudik yang melintas.

“Di Stasiun DKI 4 Lubang Buaya tercatat penurunan konsentrasi PM-10 sebesar 28.08%, penurunan konsentrasi SO2 sebesar 2.18%, penurunan konsentrasi CO sebesar 53.45% dan penurunan konsentrasi NO2 43.64%,” papar Isnawa.

Selain disebabkan oleh pemudik, kualitas udara Jakarta membaik karena dipengaruhi faktor cuaca dimana hujan deras sempat mengguyur Jakarta sehingga menurunkan polusi karena tingkat pencemaran (polutan) menurun. Air hujan disebut membawa kandungan polutan yang dihasilkan kendaraan bermotor.

“Membaiknya kualitas udara dapat dirasakan, antara lain dengan lebih nyamannya udara ketika dihirup di alam terbuka,” ucap Isnawa.

Kualitas udara yang seperti ini diharapkan bisa terus dijaga oleh masyarakat Jakarta khususnya untuk menyambut Asian Games 2018. Hal itu bisa dilakukan dengan tidak menggunakan kendaraan pribadi dan beralih kepada transportasi umum.

“Kami juga rutin mengelar uji emisi. Setiap kendaraan bermotor di Jakarta harus memenuhi ambang batas gas buang, sehingga dengan kondisi banyaknya kendaraan yang ada tidak akan mencemari udara di DKI Jakarta,” kata dia. (yendhi/mb)