Friday, 22 June 2018

Oh, Nikmatnya Lebaran

Rabu, 13 Juni 2018 — 6:32 WIB
maratua

‘NAGA Bonar dari Lubuk Pakam, pangkat Jenderal pilih sendiri, dari lubuk hati paling dalam, kami ucapkan selamat Idul Fitri.’

Pantun ucapan Lebaran dari kerabat sudah masuk ke HP Bang Jalil. Jumlahnya cukup banyak.
Bukan saja dari kawan, tapi anak cucunya juga sebelum mereka berkunjung ke rumah menyampaikan ucapan; ’ Selamat Hari Raya Idul Fitri’.

Sekarang, di ‘zaman now’ ini memang sudah serba mudah. Tinggal pencet-pencet, jari menari, maka terkirim apa yang diinginkan. Nggak perlu repot-repot kayak zaman kuda gigit besi, harus beli kartu Lebaran, dan mengirim melalui pos.Tapi bukan berarti kartu pos sudah hilang sama sekali, masih ada juga yang fanatik. Sepesial, gitu lho?

‘Lebaran telah tiba, tapi jangan lupa uang belanja. Katanya sayang, kok belum juga diajak ke Tanah Abang?’ Itu pantun dari sang istri.

Bang Jalil seperti biasa, hanya nyengir, mendapat gurauan dari istrinya. Tapi bagi Bang Jalil, apa pun harus dan patut disyukuri. Setiap tahun, selalu bisa berkumpul merayakan Lebaran dengan keluarga. Ada juga kesedihan sih, karena sebagian orang tua dan saudara sudah tiada.

Itu wajar. Memang begitu kehidupan. Selalu berputar, dulu ada, sekarang nggak ada. Dulu nggak ada, sekarang ada. Seperti anak cucu yang bermunculan, meneruskan tahta keluarga yang berkesinambungan.

Sekali lagi bersyukur. Itu kuncinya. Kan banyak orang yang nggak bersyukur, sehingga terjerumus. Lihat saja, sebagian orang yang dulunya pada berjaya, punya kekayaan dan jabatan, sangat dihormati, tapi di hari tuanya sengsara. Pada masuk penjara, karena terlibat berbagai kejahatan, termasuk korupsi?

Coba, memang enak kaya raya tapi hidup di balik terali besi? Kalau orang yang merdeka bisa berkumpul dan dikunjungi sanak keluarga di rumah sendiri. Sambil memeluk anak cucu, dan makan ketupat sayur, opor dan kue lebaran. Setelah sebulan penuh berpuasa. Oh, nimatnya Lebaran.’ Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar! ‘ –massoes