Tuesday, 21 August 2018

Selamat Berlebaran

Rabu, 13 Juni 2018 — 6:24 WIB

DUA hari lagi, In Syaa Allah, kita memasuki Hari Raya Idul Fitri. Kita sering menyebutnya sebagai Lebaran. Hanya di negara kita yang mengggunakan istilah Lebaran untuk memaknai Idul Fitri, tidak di negara lain.

Kami tidak bermaksud ingin membedah kata Lebaran baik sisi etimologi (tentang asal usul kata), maupun melalui pendekatan terminologi ( membahas makna dari kata tersebut).

Kami hanya mencoba menyinggung bahwa Lebaran sarat dengan simbol- simbol budaya bangsa kita yang di dalamnya memberi pencerahan tentang kebaikan.

Karena itu dalam merayakan Lebaran identik dengan budaya dan tradisi kita, bangsa Indonesia yang sudah berlangsung secara turun menurun.

Di dalamnya ada mudik, ada acara kumpul-kumpul keluarga menjalin silaturahmi, salam – salaman, saling memaafkan, ada juga menggelar halal bihalal. Dalam makanan yang dihidangkan, tak lepas dari ketupat yang, konon, penuh simbol dan makna.

Bahkan tanda- tanda Lebaran, menyajikan suasana baru. Baju baru, sarung baru, rumah dengan cat baru.

Satu sisi yang perlu kita maknai dari serba baru ini adalah kembali kepada kesucian. Tekad baru, menyongsong hari esok yang lebih baik setelah digembleng selama sebulan, berbuat yang terbaik selama bulan Ramadhan.

Itulah sebabnya, menurut hemat kami, Lebaran harus kembali pada nafas kesucian kita, yakni kesederhanaan. Yang lebih penting dari serangkaian aktivitas dalam memaknai Lebaran adalah merawat agar kebaikan seperti halnya ketika diaplikasikan selama bulan Ramadhan, terus bersemai selama 11 bulan kemudian, bahkan sepanjang hidup.

Dapat dikatakan Lebaran itu memaafkan, Lebaran itu kesucian, Lebaran itu kebahagiaan, Lebaran itu kerinduan silaturahmi, dan lebaran itu adalah lembaran baru untuk menuju optimisme esok yang lebih baik.

Mari kita maknai hari esok yang lebih baik dengan hati yang suci membuka diri untuk menerima masukan dan kritikan. Dengan ikhlas memaafkan dan memberi maaf.

Mantapkan sanubari untuk hilangkan rasa benci, rasa dengki, rasa iri hati, rasa dendam, rasa sombong dan rasa bangga dengan apa yang kita miliki hari ini.

Menyongsong pilkada besok, awali niat suci untuk meniadakan caci maki, saling menjatuhkan dengan kampanye hitam. Mari bergandengan memperbaiki keadaan menjadi lebih baik.
Selamat Lebaran mari saling peduli dan berbagi. (*).