Saturday, 15 December 2018

Semenjak Kerja di Papua Dapat Janda Doyan Juga

Rabu, 13 Juni 2018 — 7:24 WIB
teganya

LELAKI itu paling tidak bisa puasa wanita. Maka seperti Suhairi, 35, dari Surabaya ini, begitu istri tak mau diajak pindah kerja ke Papua, di sana ketemu janda doyan juga. Tinggal Ratih, 28, yang menyesal. Suami minta bercerai bahkan Ratih diminta tolong mengurus perceraiannya ke Pengadilan Agama. Sakit kan?

Lelaki puasa Ramadan selama 29-30 hari kuat saja. Tapi untuk puasa wanita, jangankan sebulan, seminggu saja sudah klipikan (kalang kabut) nggak keruan. Maka ketika suami dipindah-tugaskan ke mana saja, ikut saja. Sebab istri itu ibarat termos bagi suami. Kapan saja dia merasa haus, siap ditenggaknya itu termos, gleg gleg gleg…… Mlonyoh biar saja.

Ny. Ratih yang tinggal di Surabaya, rupanya tak paham soal beginian. Saat Suhairi dapat promosi kantor, jadi Kepala Bagian tapi dipindahkan ke Manokwari (Papua), dia tak mau ikut, alasannya masih sayang meninggalkan pekerjaannya di Surabaya. Akhirnya Suhairi pun di Manokwari sendirian, kembali seperti bujangan saja.Makan dan tidur sendiri, termasuk mencuci pakaian, benar-benar mencuci sendiri seperti iklan diterjen.

Seminggu dua minggu Suhairi betah dalam kondisi seperti itu. Tapi setelah sebulan, dia benar-benar merasa kesepian. Sebab sejak pindah ke Manokwari, jadi nganggur dia punya manuk (burung). Saat ada istri seminggu dua kali pasti bisa berkicau, kini berbulan-bulan nyepaplem (bengong) tanpa makna.

Di kala dilanda sepi demikan fatal, dia dapat kenalan janda baru di kantornya, yang sama-sama dari pulau Jawa. Wajahnya memang tak secantik bini di rumah. Tapi ibarat mobil, biar ada Toyota Camry tapi jauhnya ribuan kilometer di seberang sana, ya mendingan Suzuki Jimni yang tinggal nyemplak.

Akhirnya begitulah, Suhairi begituan juga dengan si janda yang usianya lebih tua dari istri di rumah. Lumayanlah, tak ada rotan akar pun berguna. Tapi tentu saja si janda tak mau jika hanya dianggap sebagai akar untuk penebus dahaga. Maksudnya, dia minta diresmikan sebagai istri yang sah, di mana sudah korban bonggol harus dapat pula benggol.

Suhairi menyadari betul bahwa Ratih istrinya di Surabaya, kini hanya fiksi. Dia ibarat guntur di langit, sementara si janda di Manokwari adalah air tempayan yang tak perlu ditumpahkan, karena siap diminum kapan saja di mana saja, sambil minum Cocacola. Karenanya, Suhari memantapkan diri untuk menceraikan Ratih saja, meski sebetulnya dia lebih cantik dari si janda Manokwari.

Beberapa hari lalu Suhairi pulang ke Surabaya. Setelah rapel rindu bersama Ratih, dia baru mengutarakan niatnya, untuk bercerai. Dia terus terang mengatakan, tak betah terlalu lama puasa wanita. Karena di sana sudah dapat gebedan baru dan siap dinikahi, maka dia hendak menceraikan Ratih. “Tapi tolong urus perceraiannya ya, nanti habis berapa tinggal ngomong.” Kata Suhairi dingin.

Coba, bagaimana perasaan Ratih kalau begini. Diceraikan suami, dia sendiri disuruh mengurus dokumennya. Tapi bagaimana lagi, itu memang karena salah sendiri, mengabaikan kebutuhan dasar seorang lelaki. Ratih kini baru menyadari, sebagai termos tak boleh jauh-jauh dari juragan yang selalu kehausan.

Termos Sun Flower memang awet panasanya, tapi kalau jauh? (JPNN/Gunarso TS)