Sunday, 19 August 2018

Baju Putih Razan al Najjar, Kode Penyelamat ‘yang Diabaikan’ Penembak Jitu Israel

Kamis, 14 Juni 2018 — 4:57 WIB
Penembakan terhadap Razan al Najjar memicu protes di berbagai kota di dunia, seperti di London (Inggris) dan di Karachi (Pakistan).

Penembakan terhadap Razan al Najjar memicu protes di berbagai kota di dunia, seperti di London (Inggris) dan di Karachi (Pakistan).

PALESTINA- Penembakan terhadap perawat Palestina Razan al Najjar membuat tenaga medis di Gaza khawatir tidak ada lagi jaminan terhadap keselamatan mereka saat bertugas.

Soalnya selama ini, tenaga medis di Jalur Gaza sebenarnya sudah memiliki prosedur ketika membantu orang-orang yang terluka agar tidak menjadi korban sniper atau penembak jitu Israel.

Namun penembakan atas Razan membuat mereka menjadi khawatir jika prosedur itu tidak membantu lagi.

Prosedur yang selama ini ditempuh adalah mengenakan baju putih dengan garis warna yang mencolok untuk memastikan penembak jitu mengenali mereka dari jarak jauh.

Saat mendekati korban yang jatuh di dekat pagar perbatasan Gaza-Israel, mereka akan bergerak perlahan, mengangkat tangan, dan berteriak keras-keras, “Jangan menembak, ada yang terluka.”

Prosedur ini penting agar di antara ban-ban yang terbakar dan asap dari gas air mata, mereka tetap dikenali sebagai tenaga medis dan tidak akan ditembak tentara Israel.

Namun, itu tadi, prosedur tersebut dikhawatirkan tak bisa lagi menjadi jaminan keselatan setelah perawat dari Desa Khuza’a, Gaza, Razan al Najjar tewas terkena tembakan sniper pada Jumat, 1 Juni lalu.

“Razan selalu berpikiran baju putih yang ia kenakan akan bisa melindunginya,” kata Sabrine al Najjar, ibunda Razan, beberapa hari setelah pemakamannya yang dihadiri ribuan orang.

“Dunia tahu apa arti baju putih yang ia kenakan,” tambah Sabrine dalam wawancara dengan koran Inggris The Guardian di rumahnya di Khuza’a.

Pada Jumat, 1 Juni, Razan terjatuh setelah dadanya tertembus peluru tajam saat tengah mendekati korban dan nyawanya tak bisa diselamatkan lagi.

Sabrine -dalam perbincangan dengan wartawan situs berita Middle East Eye- mengatakan tentara Israel tahu siapa Razan, “”Mereka tahu ia adalah tenaga medis yang membantu merawat para demonstran yang terluka.”

“Peluru tepat diarahkan ke dadanya, ini bukan peluru nyasar,” tegasnya yakin anaknya sengaja ditembak.

Israel rilis video Razan

Aksi unjuk rasa di perbatasan Jalur Gaza-Israel sering digelar sejak 30 Maret, yang disebut sebagai the Great March of Return, untuk menuntut hak bagi rakyat Palestina kembali ke rumah-rumah mereka setelah diusir pada 1948.

Pada hari Razan mati tertembak, empat tenaga medis Palestina lain terluka saat merawat sekitar 100 demonstran, 40 di antaranya terkena tembakan peluru tajam tentara Israel.

“Razan biasanya meninggalkan rumah pada pukul 7.00 pagi dan kembali sekitar pukul 20.00. Di lapangan ia mengobati orang-orang yang terluka. Ia pemberani dan tak pernah takut dengan sniper Israel,” ungkap Sabrine.

“Seragam putih yang ia kenakan biasanya penuh dengan bercak darah para korban. Di lokasi unjuk rasa, ia baru pulang ketika sudah tidak ada lagi pemrotes yang memerlukan perawatan.”

Kematian Razan membuat masyarakat internasional mengecam keras Israel. Mereka menyayangkan dan prihatin mengapa perawat yang jelas-jelas mengenakan seragam dan atribut medis serta tengah melakukan tugas kemanusiaan ditembak.

Militer Israel mengatakan akan melakukan investigasi resmi.

Pejabat militer Israel juga mengatakan bahwa penembakan Razan bukan kesengajaan.

“Penelitian awal atas insiden ini… menemukan bahwa peluru ditembakkan… dan tidak ada tembakan yang sengaja diarahkan kepadanya,” demikian pernyataan militer Israel.
Belakangan militer dan pejabat Israel, di antaranya juru bicara PM Benjamin Netanyahu, merilis video pendek wawancara Razan yang sepertinya menunjukkan bahwa ia adalah tameng manusia dan ia melakukannya untuk kelompok Hamas.

Banyak pihak mengecam video ini karena diketahui video itu sudah diedit karena dalam video yang sesungguhnya, Razan mengatakan bahwa ia berada di lokasi unjuk rasa untuk menyelamatkan orang-orang yang terluka di garis depan.

Ia juga sama sekali tidak meyebut nama Hamas.(BBC)