Tuesday, 19 June 2018

Tiga Ukuran Keberhasilan Ibadah Ramadhan

Kamis, 14 Juni 2018 — 6:00 WIB
Ramadhan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudaraku… Pembaca Poskotanews.com.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Ramadhan dengan ibadah utamanya puasa dan ibadah sunat lainnya segera kita akhiri dengan perasaan sedih dan gembira. Sedih karena Ramadhan terasa cepat berlalu padahal belum banyak rasanya yang kita lakukan untuk mengisinya dalam upaya peningkatan taqwa kepada-Nya. Namun kita juga gembira karena adanya janji ampunan dari Allah Swt atas dosa yang telah kita lakukan sehingga harapan kita, berakhirnya Ramadhan membuat kita menjadi orang dengan jiwa yang bersih dari dosa, Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari).

Untuk menilai apakah kita sudah mencapai keberhasilan dalam ibadah Ramadhan, paling tidak ada tiga ukuran yang bisa kita jadikan patokan. Pertama, memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt sehingga ia merasa dekat dan merasa selalu diawasi oleh Allah Swt. Ini merupakan hikmah yang amat penting dari ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di dalam Islam. Sikap ini menjadi begitu penting dalam kehidupan seorang muslim karena dengan demikian dia tidak berani menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan Allah Swt meskipun peluang untuk menyimpang sangat besar dan bisa jadi menguntungkan secara duniawi, hal ini karena setiap perbuatan manusia ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt.

Kedua, ukuran keberhasilan ibadah Ramadhan adalah selalu menjaga kebersihan hati dari segala dosa dan sifat tercela serta berusaha mengendalikan diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan. Ibadah Ramadhan yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya membuat kita mendapatkan jaminan ampunan dari dosa-dosa yang kita lakukan selama ini, karena itu semestinya setelah melewati ibadah Ramadhan kita tidak gampang lagi melakukan perbuatan yang bisa bernilai dosa, apalagi secara harfiyah Ramadhan artinya membakar, yakni membakar dosa, kalau dosa itu kita ibaratkan seperti pohon, maka kalau sudah dibakar, pohon itu tidak mudah tumbuh lagi, bahkan bisa jadi mati, sehingga dosa-dosa itu tidak mau kita lakukan lagi.

Dengan demikian jangan sampai dosa yang kita tinggalkan pada bulan Ramadhan hanya sekadar ditahan-tahan untuk selanjutnya dilakukan lagi sesudah Ramadhan berakhir dengan kualitas dan kuantitas yang lebih besar. Kalau demikian jadinya, ibarat pohon, hal itu bukan dibakar, tapi hanya ditebang dahan dan rantingnya sehingga satu cabang ditebang tumbuh lagi tiga, empat bahkan lima cabang beberapa waktu kemudian.

Dalam kaitan dosa, sebagai seorang muslim jangan sampai kita termasuk orang yang bangga dengan dosa, apalagi kalau mati dalam keadaan bangga terhadap dosa yang dilakukan, bila ini terjadi, maka sangat besar resiko yang akan kita hadapi di hadapan Allah Swt sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka bisa masuk ke dalam syurga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan (QS. Al A’raf [7]:40).

Jamaah Sekalian Yang Dimuliakan Allah Swt

Ukuran keberhasilan Ketiga ibadah Ramadhan adalah membuat kita memiliki semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu, hal ini karena kita dituntut untuk semakin banyak beramal shaleh dan tentu saja dengan ilmu yang banyak membuat kita semakin tahu apa yang harus kita lakukan dan bagaimana melakukannya. Dalam menuntut ilmu, setiap kita tentu saja memiliki niat yang ikhlas karena Allah Swt. Di antara niat yang benar dalam mencari ilmu adalah akan digunakannya ilmu itu untuk menegakkan kebenaran Islam, sehingga bila kematian terjadi pada saat di dalam surga ia mendapatkan derajat yang tinggi, Rasulullah Saw bersabda:

Barangsiapa didatangi kematian pada saat sedang mencari ilmu, yang dengan ilmu itu dia hendak menghidupkan Islam, maka antara dirinya dan para nabi (hanya) ada satu derajat di surga (HR. Tabrani dan Ad Darimi).

Karena itu, bila seseorang niat mencari ilmunya tidak karena Allah,tapi semata-mata karena ingin mendapatkan kekayaan duniawi, maka ia terancam tidak mencium bau surga, apalagi masuk surga, Rasulullah Saw bersabda:

Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang dengan ilmu itu semestinya dia mencari ridha Allah, dia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan kekayaan dunia, maka dia tidak kan mencium bau surga pada hari kiamat (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hibban).

Semoga ibadah Ramadhan yang segera kita akhiri memberi makna yang dalam kepada kita sehingga ketaqwaan kepada Allah Swt semakin meningkat dan paling tidak hingga sebelas bulan mendatang untuk selanjutnya kita tingkatkan lagi pada Ramadhan berikutnya.

Demikian pesan-pesan Ramadhan kita pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, aamin yaa rabbal alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Drs. H. Ahmad Yani

* Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah

* Penulis Buku Panduan Ramadhan & Doa Al Ma’tsurat Kubra

* Pengurus Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta

* Wakil Ketua Umum Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PII)

* Ketua Bidang Dakwah Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI)