Thursday, 20 September 2018

Negeri Tempat Berhijab Dapat menjadi ‘Berbahaya’

Senin, 18 Juni 2018 — 14:31 WIB
Dalia mengatakan dia dilarang memasuki dua rumah makan karena hijabnya.

Dalia mengatakan dia dilarang memasuki dua rumah makan karena hijabnya.

INGGRIS- “Lebih mudah mengenakan hijab di London daripada di Kairo.” Seperti itulah Dalia Anan, 47 tahun, perempuan asal Mesir, menggambarkan pengalamannya sebagai seorang perempuan yang mengenakan jilbab.

Dalia adalah seorang insinyur yang bekerja di industri TI. Dia pindah ke Inggris dua tahun lalu agar bisa bersama anak-anaknya yang sedang belajar di London.

“Saya lebih merasa dihakimi di Mesir dibandingkan di sini,” katanya.
Tetapi kenyataan ini memang terjadi belum lama. Sebelumnya di Mesir yang sebagian besar penduduknya Muslim, jilbab merupakan hal yang biasa saja.

Tetapi dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan, terutama di kalangan perempuan kalangan atas.

“Setelah jam tertentu di malam hari, (jika mengenakan jilbab) Anda tidak diizinkan masuk sejumlah rumah makan atau di tempat-tempat yang dipandang “bergaya”, terutama di pantai utara,” kata Dalia.

hijab-mesir

Hijab dikaitkan dengan kelas bawah, kata Dina Hisham.

‘Kelas bawah’

Tempat wisata pantai utara sepanjang Laut Tengah adalah tujuan wisata utama warga Kairo saat liburan musim panas dan juga daerah yang digemari selama liburan Idulfitri.

Dalia mengatakan ia mengalami dilarang masuk ke dua rumah makan kelas atas di salah satu tempat wisata teratas pantai utara musim panas lalu karena hijabnya.

Dina Hisham, 23 tahun, warga Mesir yang tinggal di Kanada mengatakan: “Saya tidak pernah membayangkan hal tersebut terjadi di Mesir: saya harus terlebih dulu menanyakan apakah tempat tertentu menerima perempuan berhijab”.

Sejumlah perempuan juga melaporkan tidak diizinkan berenang dengan pakaian “burkini” yang menutupi seluruh tubuh atau pakaian selam scuba di beberapa tempat wisata.

“Masalahnya adalah hijab secara tidak sadar dikelompokkan sebagai ‘kelas bawah’ dan karenanya dilarang di beberapa tempat yang diperuntukkan hanya untuk kelas atas,” kata Dina.

Di Mesir, Dina menjelaskan, “kelas atas sekarang mengacu kepada orang-orang yang memiliki banyak uang, berbahasa Inggris daripada Arab dan ‘berpikiran terbuka’, yang berarti mereka minum alkohol dan mengenakan pakaian terbuka”.

Meskipun tempat-tempat yang menolak hijab telah dimintai komentar, mereka tetap belum menjawab.

‘Bertahan berjihab’

Dan ini bukan hanya terkait dengan pelarangan masuk tempat-tempat tertentu. Meskipun sebagian besar perempuan Muslim di Mesir berhijab, sebagian menghadapi kesulitan dalam menghadapi tekanan lingkungan.

Dari semua orang yang saya ajak berbicara menyatakan semakin banyak perempuan kelas atas Mesir yang menanggalkan hijab dan yang masih berhijab mengaku sering kali dipertanyakan mengapa masih mengenakannya.

Manal Rostom, warga Mesir, apoteker dan model hijabi pertama Nike menamakannya sebagai “zaman anti-hijab”.

“Semua teman dan kerabat melepas hijab lalu mengatakan bahwa saya adalah satu-satunya orang yang masih mengenakannya.

“Saya tersulut, dan mengatakan saya tidak ingin siapapun mempengaruhi pikiran saya, dan memutuskan mendirikan ‘Bertahan Berhijab’,” kata Manal, 38 tahun yang tinggal di Dubai.

Kelompok Facebook Surviving Hijab diluncurkan sebagai kelompok tertutup di tahun 2014 dengan tujuan membantu perempuan di dunia yang mengenakan hijab, berpikir untuk memakainya atau bahkan sudah melepasnya, atau sedang berjuang untuk mengenakannya kembali.

Kelompok ini sekarang memiliki lebih 620.000 anggota perempuan, sebagian besar dari Mesir.

Manal mengatakan kelompok ini terbukti berhasil karena “memang ada kebutuhan akan platform seperti ini”.

“Perempuan takut membicarakan masalah yang mereka hadapi terkait hijab… kelompok ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbicara dan saling membantu.”

Manal berharap masyarakat akan mencapai tahap dimana tidak dipermasalahkan lagi apakah seseorang berhijab atau tidak.
‘#MyChoice’

Stigma pemakaian hijab di antara kelas atas Mesir juga menjadi salah satu pemicu kampanye media sosial #MyChoice yang diluncurkan pada bulan Mei.

Salah satu pendiri kampanye ini, Heba Mansour, 30 tahun, mengatakan dia mengalami “gegar budaya” saat pindah ke Mesir tiga tahun lalu setelah tinggal di luar negeri dengan keluarganya.

“Anda diejek dan direndahkan karena berhijab,” kata Heba, yang bekerja sebagai penasehat di American University, Kairo dan baru saja menyelesaikan S2 tentang kepemimpinan pendidikan.

“Keadaan ini membuat saya semakin kuat dalam melakukan kampanye ini,” katanya.

Kampanye yang berlangsung selama bulan suci Ramadan itu menghadirkan cerita dari 19 perempuan pemakai hijab dengan hashtag #MyChoice.

“Pesertanya mewakili cerita sukses dari berbagai sektor… untuk menyampaikan pesan bahwa hijab bukanlah suatu hambatan dan mengatakan kepada perempuan: Jangan biarkan siapapun mengadili Anda berdasarkan penampilan Anda,” kata Heba.

“Kami melakukan kampanye ini dengan satu tujuan. Mengatakan kepada perempuan lain bahwa ‘Anda tidak sendirian'”.

Sementara itu, di bagian dunia lain, banyak pula perempuan Muslim yang tidak mengenakan jilbab, yang justru menghadapi tekanan untuk mengenakan jilbab. (BBC)