Sunday, 22 July 2018

Perpanjang SIM, Tes Psikologi Cocok Bagi Pemula

Jumat, 22 Juni 2018 — 0:40 WIB
Ilustrasi ujian praktek pembuatan SIM

Ilustrasi ujian praktek pembuatan SIM

JAKARTA – Rencana penerapan tes psikologi bagi pembuat SIM baru serta perpanjangan, menuai pro dan kontra. Tes ini dinilai bisa memperketat pemberian izin mengemudi serta menekan angka kecelakaan. Namun hanya cocok bagi pemula.

Warga yang kontra menilai, tes ini tak perlu dilakukan bagi pemohon perpanjangan SIM. Sebagian masyarakat mendesak kebijakan tersebut dikaji lagi. Sebab, selama ini kecelakaan terjadi karena pengemudinya kurang hati-hati, sembrono, serta akibat minuman keras atau narkoba.

Suharno, 40, warga Tambora, Jakbar, mengaku ia tidak pernah mengalami kecelakaan. “Alhamdulillah, 17 tahun mengemudikan mobil tak pernah kecelakaan karena hati-hati. Nah, bila saya memperpanjang SIM ikut tes psikologi lalu tak lulus, bagaimana?” tanya Suharno, Kamis (21/6).

Reaksi senada dikatakan Erwin H. Al-Jakartaty, 50, warga Depok. Dia menilai, tes psikologi itu cocok bagi pemula. “Bagi kami yang sudah puluhan tahun mengendarai mobil, tak perlu tes psikologi,” ucap Erwin.

Lain lagi pendapat Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane. Dia menyebutkan rencana tersebut tidak perlu dilakukan karena dikhawatirkan akan memunculkan pungli terselubung.

“Cara-cara seperti tes psikologi ini bakal menimbulkan praktik pungli, sebaiknya dibatalkan,” katanya. Selain itu, juga akan menciptakan ekonomi biaya tinggi dalam pengurusan SIM. Dampaknya pun menciptakan ketertiban berlalulintas tidak akan pernah tercapai.

ANGGOTA DPR

Sementara itu, anggota Komisi V DPR Henky Kurniadi mengaku setuju. “Tes psikologi penting untuk mengetahui sejauh mana kecenderungan pola perilaku pengguna kendaraan,” kata Henky. Tes psikologi, sambung Henky, bisa menjadi alat bantu menyeleksi pengguna kendaraan.

Di luar negeri, otoritas masing-masing negara menerapkan syarat cukup ketat. Di Amerika Serikat misalnya, pemegang lisensi mengemudi yang masih berusia 14-17 tahun wajib didampingi ketika berkendara.

Sedangkan di Inggris, pemegang lisensi mengemudi minimal berusia 15 tahun 9 bulan. “Mereka harus lolos tes mengemudi antara lain teori, persepsi risiko bahaya dan mengemudi dengan pengawasan. Setelah lolos pengemudi mendapat lisensi sementara,” jelas Henky.

ATURAN
Kasi SIM Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Fahri Siregar menjelaskan, kebijakan tes psikologi bagi semua pemohon baru atau perpanjang SIM akan dimulai pada 25 Juni 2018.
Kebijakan itu tertuang dalam Pasal 81 Ayat 4 UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Serta tertuang dalam Pasal 36 Peraturan Kapolri No 9 Tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi (SIM).
Ditlantas Polda Metro Jaya bekerja sama dengan lembaga psikologi yang sudah terverifikasi. Tes dilakukan terpisah dari Gedung Satpas SIM. “Saat ini kami sedang mengecek semuanya,” jelas Fahri.

BIAYA TES
Sementara itu psikolog dari Andi Arta, Adi Sasongko menjelaskan biaya tes psikologi per orang mencapai Rp35.000. Soal-soal psikologi yang diberikan dibuat atas kerjasama Satpas SIM dengan lembaga psikologi dalam menyusun pertanyaan. “Bagi pemohon baru ada 24 soal, sedangkan perpanjangan 18 soal,” ungkap Adi.

Bagi pemohon baru, sambung Adi, pertanyaan dibuat lebih banyak karena perlu kedalaman tes. “Yang baru membuat SIM dibutuhkan penelitian lebih detail. Pertanyaan yang diajukan akan lebih,” pungkas Fahri. (ilham/angga/iw/ird)