Monday, 16 July 2018

Dirusak atau Merusak

Sabtu, 23 Juni 2018 — 5:18 WIB
dulkarung

Oleh S Saiful Rahim

“WAH, cepat ramainya ya?” kata Dul Karung ketika masuk ke warung kopi Mas Wargo setelah mengucapkan kata assalamu alaykum dengan fasih.

“Kalo ngomong yang jelas dong. Apa yang cepat ramai?” tanya orang yang dudk dekat pintu masuk warung kopi seraya bergeser memberi tempat duduk untuk Dul Karung.

“Kota dan warung ini!” jelas Dul Karung sambil mencomot sepotong singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Biasanya setelah dua minggu Lebaran lewat, warung Mas Wargo ini baru rame lagi. Jangan-jangan kalian ke sini sekarang mau berutang karena uang kalian sudah habis lantaran gaya hidup sok kaya di kampung masing-masing,” sambung Dul Karung.

“Huuuu, emangnye Ente,” kata beberapa orang serempak dan terdengar agak sengit.

“Kami relatif cepat balik ke Jakarta karena macam-macam alasan. Yang bekerja di lingkungan Pemda DKI Jakarta buru-buru balik karena takut pada ancaman pecat dari Pak Wagub. Ada yang kepengen ikut meramaikan HUT Kota Jakarta, ada yang ingin nonton Jakarta Fair, ada yang belum sempat Lebaran dengan teman-teman di Jakarta lantaran dulu keburu mudik, dan banyak lagi sebabnya deh,” jelas orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Bagiku kalian cepat kembali ke Jakarta atau berlama-lama bernostalgia di kampung tidak menjadi masalah. Kalian balik ke Jakarta dengan jumlah yang sama ketika mudik, maupun dibuntuti sanak famili atau tetangga, juga tidak apa-apa. Jakarta ini hak milik semua anak bangsa. Orang asing pun boleh tinggal dan mencari makan di Jakarta, apalagi anak bangsa sendiri. Dan lebih membanggakan lagi bila kalian bisa memindahkan tata krama santun orang desa ke Ibu Kota kita ini. Sifat gotong royong, rukun, saling bantu membantu, dan semua sifat hidup baik yang berakar di kampung itu pindahkan jugalah di Ibu Kota.

Aku memang lahir dan dewasa di Jakarta, tetapi di zaman revolusi aku berjuang, mengangkat senjata di pedesaan. Jadi aku tahu betul sifat-sifat terpuji orang desa. Nah, bawalah semua itu. Pindahkanlah ke Jakarta.” Pinta, nasihat dan harapan seorang lelaki tua yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

Tapi tiba-tiba suara hiruk pikuk dari luar masuk menerobos warung kopi Mas Wargo. Beberapa orang yang spontan keluar melihat segerombolan pemuda pengendara sepeda motor berbaku hantam. Berbagai jenis senjata siap dalam genggaman. Belati, kelewang, rantai bergigi, gancu dan entah apa lagi siap dipakai menyerang. Dari teriakan dan jeritan mereka mudah dikenali mereka pemuda pendatang dari berbagai daerah dan pedesaan.

Dul Karung menggigil takut dan sadar kebrutalan yang dulu cuma ada di kota besar, telah melebar ke desa dibawa oleh sebagian pemudik pada tahun-tahun terakhir ini. ( Syahsr@gmail.com )