Tuesday, 11 December 2018

Enam Tewas Akibat Miras, Kok Warga Tidak Ada yang Melapor

Senin, 25 Juni 2018 — 20:19 WIB
Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengky Hariadi

Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengky Hariadi

JAKARTA- Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengky Hariadi mengatakan, pihaknya dapat informasi pada Minggu (24/6/2018) bahwa warga yang menjadi korban minuman keras (miras). Namun tidak ada yang melaporkan peristiwa tersebut ke pihak kepolisian.

“Saat itu sudah ada yang meninggal tiga orang. Tetapi tidak dilaporkan dan langsung dimakamkan. Kemudian baru diketahui tadi Senin (25/6) dinihari pukul: 02.00 wib bahwa ada satu korban yang meninggal dunia di rumah sakit RSUD Cengkareng dan ternyata ini adalah korban yang keenam,” kata Hengky, Senin (25/6).

Meski tidak ada laporan, kata Hengky pihaknya proaktif melaksanakan penyelidikan. Dari penyelidikan ternyata ada enam tewas. Polisi lalu langsung menangkap tersangka.

“Hasil pemeriksaan kami, miras oplosan ini dibuat dengan bahan dasar methanol ataupun metyl alcohol. Bahan ini sebenarnya bersifat toxic ataupun racun yang digunakan untuk tidak boleh dikonsumsi. Kemudian dicampur dengan teh, gula dan air putih,” ujarnya.

(Baca: Miras Racikan Nenek-nenek Tewaskan Enam Orang di Cengkareng)

Dikatakan, dari pemeriksaan saksi termasuk yang diamankan, SS menjual miras oplosan tersebut pada Kamis (21/6) lalu. “Karena sebelum-sebelumnya sudah diadakan operasi-operasi termasuk di pabrik ilegal di Cengkareng terhadap minuman keras ini. Namun, ternyata ini dijual hanya untuk kalangan tertutup dan di rumah,” ucapnya.



Hengky menjelaskan, korban membeli bahan pembuat miras dari toko di Gunung Sahari, mereka beralasan bahan-bahan itu untuk membuat parfum. “Kemudian ternyata dicampur menjadi miras oplosan dan mengakibatkan ada enam meninggal dunia dan 1 orang masih kritis di RSUD Cengkareng

Jajaran Polres Jakarta Barat hingga kini terus melakukan operasi miras. Pihaknya juga menindak dua pabrik dan kemudian memusnahkan dan menyita kurang lebih 10.583 botol terhadap 44 TKP. “Sekarang sudah dikirim ke pengadilan dan satu orang sudah ditahan,” tukasnya.

Hengky mengimbau masyarakat untuk pro aktif melaporkan karena ini modusnya dijual tertutup untuk kalangan tertentu. Kemudian setelah menjadi korban juga tidak dilaporkan.

“Kami ketahui baru jam 2 tadi pagi dan korban terakhir. Untuk kasus ini kami berikan pasal pasal 204 KUHP dan pasal terkait perlindungan konsumen dan UU Pangan termasuk pasal pembunuhan dengan alasan efek jera penggetar jera. Baik untuk pelaku pidana dan secara generalis. Jadi jangan coba-coba meniru seperti ini,” pungkasnya. (ilham/b)