Friday, 21 September 2018

Menanti Keampuhan Revitalisasi SMK

Senin, 2 Juli 2018 — 4:52 WIB

JAKARTA ditetapkan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) menjadi percontohan dan pencanangan program revitaliasasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia. Melalui program itu nantinya siswa lulusan dari sekolah ini bisa langsung memperoleh pekerjaan.

Penunjukan Jakarta oleh Kemendikbud menjadi revitalisasi SMK disambut antusiasme Gubernur Anies Baswedan. Dengan penuh semangat, orang nomor satu di lingkungan Pemprov DKI Jakarta siap mengubah paradigma bahwa sekolah hanya bisa mencetak kelulusan tetapi tidak memperhatikan kebutuhan pasar.

Antusiasme Anies terhadap program revitalisasi sekolah ini, ditandai dengan akan membangun 42 SMK baru. Langkah ini untuk meningkatkan porsi siswa SMK hingga dua kali lipat atau dari 22 persen menjadi 45 persen.

Anies juga akan mengadopsi sistem dual track. Nantinya Pemprov DKI Jakarta bekerjasama dengan dunia usaha. Artinya proses belajar dan mengajar di SMK diselaraskan dengan kebutuhan dunia usaha.

Kabar merevitalisasi SMK dan antusiasme Gubernur Anies mengubah paradigma sekolah sehingga banyak tamatan sekolah ini terserap bekerja tentu melegakan publik.

Maklum, selama ini meski menimba ilmu di SMK lebih diarahkan untuk bekerja dibandingkan dengan sekolah lain, tetapi faktanya jebolah dari sekolah kejuruan banyak yang menganggur.

Mengutip data BPS (Badan Pusat Statistik), hampir setiap tahun, lebih dari satu juta lulusan SMK di Indonesia menganggur. Bahkan beberapa tahun terakhir, tingkat pengangguran dari kalangan lulusan SMK paling tinggi dibandingkan dengan lulusan dari sejumlah jenjang pendidikan lainnya.

Potret ini tentu saja memprihatinkan. Siswa jebolah SMK yang nota bene lebih diarahkan untuk bekerja justru malah banyak yang menganggur. Padahal, sejak 2016, Presiden Jokowi sebenarnya sudah memerintahkan Kemendikbud merevitalisasi SMK yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia.

Kini setelah Pemprov DKI Jakarta resmi ditunjuk menjadi percontohan dan pencanangan program revitaliasasi SMK, diharapkan lulusan dari sekolah ini, terutama di Ibukota kelak bisa langsung bekerja.

Maklum pada tahun ini saja, SMK di Indonesia, termasuk Jakarta menyumbang sekitar 1,5 juta lagi lulusan atau tenaga kerja baru yang akan berebut lapangan kerja.

Apakah angkatan kerja tamatan SMK di Jakarta pada masa datang bisa langsung terserap dalam dunia usaha atau malah sebaliknya? Publik tentu menanti keampuhan revitalisasi SMK. @*