Friday, 16 November 2018

Rizal Ramli : Indonesia Tidak Usah Dengar Saran IMF

Selasa, 3 Juli 2018 — 21:44 WIB
Rizal Ramli saat memaparkan masalah ekonomi  di JCC (rizal)

Rizal Ramli saat memaparkan masalah ekonomi di JCC (rizal)

JAKARTA – Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengatakan, sebaiknya pemerintah Indonesia tidak bergantung kepada Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF).

Supaya pertumbuhan ekonomi bisa bangkit, maka ekonomi rakyat n harus dibangkitkan juga. Rizal mengatakan bahwa saat ini Indonesia masuk dalam kategori negara miskin. Salah penyebabnya karena pemerintah terlalu bergantung pada saran dari Bank Dunia maupun IMF.

“Salah satu kita miskin karena korupsi. Kedua karena garis ekonominya, kebijakan ekonominya manut sama Bank Dunia dan IMF. Tidak ada negara hebat ikut saran dari IMF bank dunia. Harus ada perubahan,” kata pria yang akrab disapa RR dalam sebuah diskusi yang digelar UI dan Aliansi kebangsaan di JCC Senayan, Selasa (3/7).

Menurutnya, negara-negara maju di dunia tidak pernah mengikuti saran kebijakan ekonomi dari Bank Dunia maupun IMF. Contohnya seperti Jepang dan China. “Jepang setelah perang dunia 12% selama 20 tahun. China tumbuh 12% dalam 25 tahun, karena tidak pakai memakai cara-cara Bank Dunia, IMF, tidak mengandalkan utang. China utangnya tidak ada, kecuali domestik,” bebernya.

Rizal Ramli pun menyesalkabn, bahwa ekonomi Indonesia sempat lebih baik dalam hal penghasilan perkapita dari negara Malaysia, China dan Thaliand. “Tapi sekarang kita kalah dengan dengan negara China, Thailand dan Malaysia. Tahun 67 semua di Asia pendapatnya US$ 100, China lebih miskin dari kita, US$ 50 per orang. Hari ini Korea US$ 35 ribu, 10 kali dari kita, Thailand 2 kali kita, Malaysia tiga kali kita, Taiwan enam kali kita,” urainya.

Meksi mengkritik kebijakan ekonmi pemerintah, namun Rizal menilai langkah BI yang dipimpin oleh Perry Warjiyo sudah cukup baik dalam memberikan respon pasar dengan menaikkan suku bunga acuannya.

Rizal mengatakan upaya menaikkan suku bunga tersebut masih dirasa kurang ampuh untuk menjaga rupiah tetap stabil.

“Saya apresiasi Pak Perry, karena dia lebih antisipatif, dia cicil. Karena dia tahu sampai akhir minggu kemarin tekanan ke bawah. Menjelang tutup, Jumat kemarin dia naikkan 0,5% (50 bps). Dengan harapan obat ini cukup positif. Tapi ternyata, orang tidak percaya obat ini cukup,” kata Rizal. (rizal/b)