Saturday, 22 September 2018

Tercatat HIV-AIDS Capai 55 Kasus di Sukabumi

Kamis, 5 Juli 2018 — 15:48 WIB
TEKS FOTO: Sosialisasi KPA Go To School ke kalangan pelajar untuk mengkampanyekan bahaya HIV – AIDS.(sule)

TEKS FOTO: Sosialisasi KPA Go To School ke kalangan pelajar untuk mengkampanyekan bahaya HIV – AIDS.(sule)

SUKABUMI – Penderita HIV-AIDS di Kota Sukabumi, Jawa Barat tercatat 55 kasus dalam rentang Januari – Mei, tahun ini. Jumlah ini meningkat dibanding periode sama tahun 2017 sebanyak 35 kasus.

Dari data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Sukabumi, dari 55 kasus itu yakni sebanyak 25 kasus pasangan risti (berisiko tinggi), seperti pasangan ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS), pasangan IDU (Injecting Drug User), ibu hamil dan pasien TB (Tuberkulosis).

Lalu, sebanyak 13 kasus berasal dari pelaku heteroseksual, 12 kasus LSL (Laki-laki Seks Laki-laki), 4 PPS (Pelangan Pekerja Seks) dan 1 waria.

“Dengan kasus terbaru ini, total kumulatif penderita HIV-AIDS sejak tahun 2000 hingga saat ini mencapai 1.312 kasus,” terang Sekretaris KPA,  Fifi Kusumajaya, Kamis (5/7/2018).

Dijelaskannya, para penderita HIV-AIDS tersebut, saat ini sedang melakukan akses ARV (Antiretroviral) di RSUD R Syamsudin, SH didampingi LSM Lensa Sukabumi.

Diungkapkan Fifi, penyebab meningkatnya kasus HIV-AIDS akibat faktor meningkatnya seks menyimpang di kalangan warga masyarakat. Terlebih adanya kemudahan akses transportasi ke Kota Sukabumi dengan mudah melakukan aksinya di Kota Sukabumi.

“Makanya, kami senantiasa berupaya optimal dan secara rutin melakukan pencegahan sejak dini.  Melalui edukasi dan sosialisasi secara masif kepada segenap lapisan warga masyarakat tentang bahaya HIV-AIDS, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan LSM Lensa Sukabumi,” bebernya.

Diharapkannya, masyarakat dapat mengurangi aktivitasnya, terutama yang dapat menyebabkan terkena HIV-AIDS.

Di lain sisi, Fifi mengakui tugas KPA terbilang cukup berat. Sebab pada saat menemukan kasus baru HIV-AIDS, KPA harus dapat mengarahkan para pengidap HIV-AIDS, supaya konsisten melakukan pengobatan.

“Karena berdasarkan data yang ada di KPA, tidak sedikit pengidap HIV-AIDS yang berhenti berobat di tengah jalan. Selain itu, KPA juga harus berupaya optimal menekan dan mengurangi angka kematian para pengidap HIV-AIDS,” ungkapnya. (sule/mb)