Monday, 23 July 2018

Cegah Meluasnya Zona Merah Kejahatan

Jumat, 6 Juli 2018 — 5:10 WIB

KEJAHATAN jalanan atau street crime di wilayah Jakarta dan sekitarnya, menjadi sorotan publik serta prioritas utama penanganan kepolisian. Pasca Lebaran, tensi kriminalitas jalanan kian meningkat. Pelaku bukan hanya merampas harta, melainkan juga merampas nyawa korbannya.

Dalam sepekan ini, dua perempuan menemui ajal di jalanan akibat kebengisan bandit jalanan. Pertama, Warsilah, meninggal dunia di tangan pejambret di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (2/7/2018). Kedua, Saripah, tewas ditikam dan ditembak di Jl. Rasuna Said, Kec. Pinang, Tangerang, Kamis (5/7) malam, tiga hari setelah peristiwa di Jakarta Pusat.

Sekadar mengingatkan, dua pekan sebelumnya Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Syarief Burhanudin, juga dijambret di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Minggu (24/7) pagi saat sedang bersepeda. Dia mengalami patah tulang bahu. Rentetan peristiwa kriminal tersebut mencerminkan, rasa aman kini kian mahal. Penjahat jalanan berkeliaran di mana saja, kian brutal serta beraksi tanpa melihat tempat dan waktu.

Peta lokasi rawan kejahatan yang dibuat kepolisian, di Jakarta terdapat ratusan titik rawan yang harus diwaspadai. Seperti di Jakarta Barat, ada 200 titik rawan kejahatan yakni curas (pencurian dengan kekerasan), curanmor (pencurian kendaraan bermotor, narkoba dan premanisme. Belum lagi wilayah lainnya, juga terdapat ratusan titik rawan kejahatan.
Zona merah kejahatan kini menjadi prioritas penjagaan oleh polisi. Tetapi agaknya pelaku kejahatan membaca titik-titik rawan yang dipetakan polisi, dan menggeser daerah sasaran. Ibarat teori balon, ditekan di satu titik, menggelembung di tempat lain. Artinya, zona merah kejahatan meluas. Kawasan Kota Tua selama ini termasuk relatif aman, kini menjadi incaran penjahat.

Mencegah meluasnya zona merah kejahatan, operasi intelijen dan patroli terbuka maupun tertutup tak bisa lagi terkonsentrasi pada titik-titik yang dianggap rawan, melainkan merata di semua lokasi. Polda Metro Jaya telah menerjunkan 1.000 personel guna memburu pelaku kriminalitas. Tim ini sebaiknya menggandeng komponen masyarakat dalam meredam aksi kriminalitas.

Catatan lainnya, jangan tempatkan pelaku kejahatan sebagai sosok ‘hebat’ lebih kuat dari aparat keamanan, karena ini akan membuat mereka menjadi besar. Selain itu, warga juga harus bisa menjadi polisi bagi diri sendiri, dengan cara terus waspada dan padai membaca modus yang dilakukan pelaku kriminal. Kejahatan harus dilawan bersama. **