Wednesday, 26 September 2018

Pilkada, Pilkuda, Pilkadal

Sabtu, 7 Juli 2018 — 5:23 WIB
pilkadut

Oleh S Saiful Rahim

“ALHAMDULILLAH, wa syukurillah wa lahawla wa laquwwata,” kata Dul Karung seraya masuk sambil mengangkat sepasang tangannya yang kemudian dia sapukan ke wajahnya.

“Panjang amat puji syukurmu sehingga kakimu hampir sajatersandung palang pintu warung kopi Mas Wargo,” sambut orang yang duduk di dekat pintu masuk seraya bergeser memberi tempat Dul Karung duduk.

“Apa yang kau syukuri demikian hebat, Dul?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang sambil mengunyah tempe goreng.

Dari makanan pilihan serta logat omongannya yangantep-antep berat, mudah ditebak dari mana asal-usul sang penanya tersebut.

“Hasil Pilkada. Aku baru saja mampir di Pos RT sana tuh. Mendengarkan berita tentang hasil Pilkada,” jawab Dul Karung sambil mencomot dan mencaplok singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Siapa yang menang, Dul?” tanya orang yang duduk di ujungkanan bangku panjang.

“Ya banyaaaak,” jawab Dul Karung terbatuk- batuk,tersedak oleh kunyahan singkong goreng yang belum tertelan.

“Iya banyak. Tapi ada berapa?” kini orang yang duduk di kanan Dul Karung yang menekan tanya.

“Gak tahulah! Pokoknya yang menang banyak yang kalahjuga banyak. Yang seri barangkali yang tidak ada,” kata Dul Karung sambil menyeruput teh manis untuk mendorong potongan singkong goreng yang mampir di tenggorokan.

“Iyalah! Namanya saja Pilkada alias Pemilihan KepadaDaerah. Ya pemilihnya tentu semua penghuni daerah yang sudah wajib memilih. Nah, bila pemilih itu warga seluruh Indonesia jumlahnya bisa sekitar 250 jutaan manusia,” kata Mas Wargo yang biasanya berdiam
damai saja.

“Padahal sebelumnya sudah dikuatirkan timbul kerusuhan sehingga Polri dengan dibantu ABRI sudah siap siapa. Tapi ternyata rakyat kita sudah memahami benar demokrasi. Alhamdulillah dan hebat Indonesia. Pilkada luar biasa!” tanggap entah siapa dan duduk di
sebelah mana.

“Itulah Pilkada! Coba kalau Pilkuda sebanyak itu suararingkik moncong dan kaisan kaki belakangnya bisa orang mengira dunia mau kiamat,” kelakar orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo, membuat pendengarnya tergelak-gelak.

“Tetapi ada yang harus betul-betul kita awasi. YaituPilkadal,” kata Dul Karung setengah gumam.

“Apa pula Pilkadal itu?” tanya suara beraksen seberang Jawa.

“Saat mengumumkan hasil hitung suara secara manual kelak jangan sampai ada yang bisa dikadalin alias ditipu. Hitunglah secara terbuka dan jujur,” kata Dul Karung seraya ngeloyor meninggalkan warung Mas Wargo dengan begitu saja. (Syahsr@gmail.com)