Monday, 23 July 2018

Redam Gejolak Harga Pangan

Selasa, 10 Juli 2018 — 4:48 WIB

PENGELUARAN rumah tangga warga Jakarta kian membengkak pasca-Hari Raya Idul Fitri. Setelah pengeluaran untuk kebutuhan Lebaran 2018, menyusul pula pengeluaran kebutuhan sekolah anak menghadapi tahun ajaran baru. Pakaian seragam, buku pelajaran dan biaya-biaya lainnya membuat kocek orangtua terkuras.

Kondisi ekonomi warga kini kian berat karena harga kebutuhan pokok tak juga turun, sebaliknya malah naik. Di pasar tradisional maupun swalayan, harga komoditas pangan antara lain beberapa jenis beras, daging ayam, telur ayam broiler, mapun kelompok sayuran seperti cabe dan bawang, terus merangkak naik.

Di satu sisi biaya sekolah anak wajib harus terbayar, di sisi lain kebutuhan pangan tak bisa ditunda. Pengeluaran rumah tangga pun kian membengkak hingga tak sedikit warga yang terpaksa menggadaikan barang berharga atau berutang.

Menghadapi situasi sulit yang dihadapi masyarakat, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah jangan berpangku tangan. Gejolak harga kebutuhan pangan terjadi sudah dua pekan ini, dan sampai kini belum terkendali, akan semakin liar bila tidak ada campur tangan pemerintah.

Melonjaknya harga kebutuhan dapur bukanlah masalah sepele. Karena banyak dampak yang ditimbulkan bukan hanya dirasakan oleh rumah tangga, tapi juga berpengaruh besar terhadap inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, setiap tahun kelompok bahan pengan menjadi penyumbang terbesar inflasi, yaitu mencapai 8,53 %. Salah satu faktor yang mendorong laju inflasi, adalah naiknya harga pangan.

Fluktuasi harga pangan yang semakin tajam pasca Lebaran, bisa jadi akibat ulah spekulan. Apalagi pemerintah sebelumnya mengumumkan stok kebutuhan pangan pasca Lebaran dijamin aman. Karena itu pemerintah jangan lamban merespon gejolak kenaikan harga. Bahan pangan adalah menyangkut hajat hidup orang banyak yang tidak bisa ditunda-tunda, dan menyangkut daya beli masyarakat. **